Minggu, 30 Juli 2017

Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang menyeru kaum muslimin untuk kembali kepada Islam sesuai dengan manhaj salaf shalih. Di bidang ini dakwah yang digawangi oleh Syaikh Ibnu Abdul Wahab merupakan motor utama bagi gerakan-gerakan perbaikan yang lahir pasca kemunduran dan kemandekan pemikiran di dunia Islam.  
Dakwah ini menyeru kaum muslimin untuk kembali kepada akidah Islam yang shahih dengan menimbanya dari sumbernya yang jernih. Dakwah ini berupaya membersihkan kemurnian tauhid dari noda-noda syirik yang mengotorinya.  
Dakwah ini bukan madzhab baru dan bukan manhaj bid’ah, karena ia hanya melanjutkan dan meneruskan dakwah salafiyah yang lahir sebelumnya. Dakwah ini adalah dakwah yang berupaya membuka jalan salaf shalih di depan mata kaum muslimin sehingga mereka mengetahuinya dan selanjutnya menitinya.  
Pendiri  
Dakwah ini lahir di tangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi, 1115 – 1206 H. Syaikh lahir di kota al-Uyainah yang dekat dengan Riyadh. Ayahnya adalah guru pertamanya, kepadanya Syaikh belajar dasar-dasar madzhab Hanbali, tafsir dan hadits. Syaikh telah hafal al-Qur`an dalam usia sepuluh tahun.  Syaikh berangkat ke Makkah untuk beribadah haji, di sana Syaikh belajar dari ulama-ulamanya. Kemudian Syaikh pindah ke Madinah, di sini Syaikh bertemu dengan Syaikh Muhammad Hayat as–Sindi yang selanjutnya menjadi guru baginya, di samping Syaikh belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim Alu Saif.  
Syaikh berangkat ke Irak, di sana Syaikh belajar dari ulamanya di kota Bashrah dan Baghdad. Syaikh meninggalkan Bashrah ke al-Ahsa` kemudian ke Huraimala` mengikuti ayahnya yang seorang hakim yang pindah karena tuntutan pekerjaan. Di kota ini Syaikh mulai menebarkan dakwah tauhidnya sekalipun tidak berlangsung lama karena konspirasi sebagian kalangan untuk membunuh Syaikh.  
Syaikh pindah ke al-Uyainah, dia menyampaikan dakwahnya kepada Amirnya Usman bin Ma’mar. Bersama Amir ini Syaikh mulai menghancurkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan dan menegakkan hukum rajam atas seorang wanita yang berzina dan mengakui perbuatannya.  
Amir al-Ahsa` Urai’ir bin Dujain mengirim surat kepada Amir al-Uyainah yang berisi perintah untuk membunuh Syaikh, sebagaimana orang-orang buruk yang tidak menyukai dakwah Syaikh mengadukan Syaikh ke Ibnu Ma’mar, maka Ibnu Ma’mar meminta Syaikh untuk meninggalkan negerinya ke mana Syaikh suka.  
Syaikh hijrah ke ad-Dir’iyah, wilayah dibawah kepemimpinan Alu Suud, Syaikh singgah sebagai tamu pada seorang laki-laki Muhammad bin Suwailim al-Uraini, di sini para penuntut ilmu berkumpul kepada Syaikh dan memuliakannya.  
Amir Muhammad bin Suud yang berkuasa pada masa itu mendengar kedatangan Syaikh ke wilayahnya, maka dia menemui Syaikh dan menyambutnya. Amir Ibnu Suud berjanji kepada Syaikh untuk memberikan perlindungan dan dukungan.  
Di antara percakapan yang terjadi di antara kedua:  
Amir Ibnu Suud berkata, “Bergembiralah dengan negeri kebaikan dan bergembiralah dengan kemuliaan dan perlindungan.”  
Syaikh berkata, “Bergembiralah dengan kemuliaan dan kekuasaan. Ini adalah kalimat la ilaha illalllah, siapa yang memegangnya, mengamalkannya dan mendukungnya maka dia akan menguasai negeri dan manusia, ia adalah kalimat tauhid, ia adalah dakwah semua rasul dan Allah akan mewariskan bumi ini kepada kaum muslimin.”  
Kemudian Amir meletakkan dua syarat:  
  1. Hendaknya Syaikh tidak meninggalkannya dan mencari pendukung lain.  
  1. Hendaknya Syaikh tidak melarangnya untuk mengambil pada saat panen apa yang sudah biasa diambil dari penduduk ad-Dir’iyah.  
Syaikh menjawab tentang syarat yang pertama, “Berikan tanganmu, aku membaiatmu. Darah dengan darah dan kematian dengan kematian.”  
Syaikh menjawab tentang syarat kedua, “Semoga Allah memberikan ganti kepadamu melalui harta rampasan yang kamu peroleh melalui beberapa penaklukan.”  
Syaikh dengan dukungan Amir menyebarkan dakwah tauhid di seantero Nejed. Ketika Amir Muhammad bin Suud wafat, dia digantikan oleh anaknya Abdul Aziz bin Muhammad yang tetap mendukung Syaikh menyebarkan dakwahnya sampai Syaikh wafat di ad-Dir’yah dan di sana Syaikh dimakamkan.  
Syaikh meninggalkan karya-karya dalam jumlah besar, di antaranya adalah Kitab at-Tauhid, Kitab al-Iman, Kasyf asy-Syubuhat, Adab al-Masyi ila ash-Shalah, Masa`il al-Jahiliyah dan lain-lainnya.  
Tokoh-tokoh  
Pasca wafatnya Syaikh, dakwah tauhid ini diusung dan diteruskan oleh para ulama yang merupakan murid-murid Syaikh yang berjumlah besar, di antara mereka adalah:  
Suud bin Abdul Aziz bin Muhammad, putra mahkota di masanya, dia adalah murid yang selalu mendampingi Syaikh dan belajar darinya.  
Anak-anak Syaikh, Husain bin Muhammad bin Abdul Wahab, hakim negeri ad-Dir’iyah. Ali bin Muhammad, seorang ulama besar yang menolak pengangkatannya sebagai hakim. Abdullah bin Muhammad, hakim ad-Dir’iyah di zaman Amir Suud bin Abdul Aziz bin Muhammad. Ibrahim bin Muhammad, seorang ulama mulia sekaligus peneliti cermat.  
Abdurrahman bin Khamis, imam istana Alu Suud di ad-Dir’iyah dan hakim di masa Raja Abdul Aziz dan putranya Raja Suud.  
Husain bin Ghannam, penulis Raudhatul Afkar, seorang ulama yang berilmu luas.  Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, belajar kepada kakeknya, mengajar dan menjadi hakim, penulis kitab Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid.  
Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, dibunuh oleh Ibrahim Basya pasca jatuhnya ad-Dir’iyah. Penulis kitab Taisir al-Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab at-Tauhid  
Syaikh Allamah Muhammad bin Ibrahim, wafat tahun 1389 H, salah seorang cucu Syaikh, mufti umum Kerajaan Saudi Arabiah dan kepala para hakim di zamannya, terkenal dengan ilmunya yang luas, hafalannya yang kuat dan pandangan-pandangannya yang jauh ke depan, terkenal dengan ibadahnya, kebersihan dan kemurahan hatinya, di samping itu dia sangat disegani oleh para penguasa.  
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Babathin, ulama besar yang dijuluki dengan Mufti ad-Diyar an-Najdiyah, wafat tahun 1282 H.  
Di antara tokoh dakwah ini adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabiah sebelum ini, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.  
Pemikiran dan Keyakinan  
  1. Syaikh Ibnu Abdul Wahab bermadzhab Hanbali, namun dia tidak memegangnya dengan ta'ashub, jika ada dalil yang menurutnya rajih, maka dia mengikuti dalil dan meninggalkan madzhabnya. Hal ini memberi warna kepada dakwahnya, yaitu mengikuti dalil selaras dengan manhaj salaf shalih.  
  1. Dakwah ini menekankan kewajiban rujuk kepada al-Qur`an dan sunnah dengan pemahaman salaf shalih dan berupaya menghidupkan apa yang tergerus dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.  
  1. Dakwah ini menyeru kaum muslimin untuk memurnikan akidah tauhid dan membersihkannya dari kotoran syirik dengan meneladani kaum muslimin angkatan pertama.  
  1. Menetapkan pemahaman yang shahih dalam tauhid Asma` was Shifat sesuai dengan manhaj salaf shalih, yaitu menetapkan Asma` was Shifat yang Allah dan rasulNya tetapkan tanpa tamtsil, takyif, tahrif dan Ta'ala’thil.  
  1. Menghidupkan kewajiban jihad di jalan Allah dan memberantas bid’ah-bid’ah serta khurafat-khurafat yang disusupkan ke dalam agama Islam padahal ia bukan darinya.  
  1. Menutup segala sarana kepada kesyirikan seperti mendirikan bangunan di atas kubur, memberinya penerangan dan kiswah, menziarahi kubur-kubur yang dianggap keramat dan sepertinya. 
  1. Membendung gerak langkah dan pemikiran-pemikiran dari kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan lurus, aliran-aliran bid’ah dan tasawuf yang menyusupkan ajaran-ajaran yang bukan dari Islam ke dalam Islam atau membelokkan kebenaran ke arah yang sejalan dengan hawa nafsu mereka.  
  1. Memerangi thaghut, yaitu sesuatu yang disembah atau diikuti atau ditaati secara berlebih-lebihan sampai melampaui batas. Dedengkot thaghut adalah lima: Iblis yang terkutuk, orang yang disembah selain Allah dan dia rela, orang yang menyeru manusia untuk menyembah hawa nafsu, orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib dan orang yang menetapkan hukum dengan selain yang diturunkan oleh Allah. Seseorang tidak beriman sehingga dia kafir kepada thaghut.  
  1. Meninggalkan dalil yang jelas dengan berdalil kepada lafazh yang musykil dan mutasyabih adalah salah satu metode para pengikut hawa nafsu, orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit seperti Jahmiyah, Rafidhah, Khawarij dan lain-lain yang harus dihindari karena ia menyeret kepada kesesatan.  
“Adapun orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.” (Ali Imran: 7).  
  1. Segala sesuatu yang didiamkan oleh peletak syariat dimaafkan, tidak halal bagi siapa pun untuk mengharamkannya atau mewajibkannya atau menganjurkannya atau memakruhkannya. Yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh peletak syariat dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh peletak syariat. Dan Nabi shallallohu 'alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, di antara keduanya adalah perkara yang mutasyabihat.  
  1. Syirik adalah dosa nomor wahid yang harus ditakuti dan ia terbagi mejadi syirik akbar yang meliputi syirik ibadah, tujuan, ketaatan dan kecintaan. Syirik ashghar yaitu riya` dan yang sepertinya dan syirik khafi atau samar.  
  1. Ulama dakwah ini mengetahui perkara-perkara zaman dan memahami hal-hal yang terjadi di masanya. Syaikh Ibnu Abdul Wahhab sendiri begitu perhatian dalam perkara tauhid ibadah dan lawannya, hal itu karena tauhid ibadah adalah kewajiban pertama atas mukallaf di samping penyimpangan yang mewabah pada zaman Syaikh terjadi di bidang ini.  
Namun ketika dakwah ini mulai menyebar ke luar dan menghadapi perkara-perkara baru yang sedang mewabah, maka ulama dakwah ini bisa menyikapinya dengan baik dengan menimbangnya dengan al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam ala pemahaman salaf umat, ketika tahrif dan ta’thil di bidang Asma` was Shifat, misalnya, sedang mewabah maka ulama dakwah ini membahasnya dengan lengkap sesuai dengan dalil yang shahih, hal ini terlihat dari tulisan-tulisan Syaikh Abdurrahman bin Hasan dan putranya Abdul Lathif.  
Demikian pula ketika hukum thaghut melalui impor terhadap hukum-hukum barat memayungi negeri-negeri kaum muslimin, para ulama dakwah ini mempunyai reaksi cepat dan tepat dalam menyikapinya dengan menjelaskan hukum Allah padanya, hal ini bisa terbaca dari fatwa-fatwa dan tulisan-tulisan Syaikh Muhammad bin Ibrahim.  
  1. Memberi perhatian dalam perkara pengajaran kepada orang-orang umum dan mengangkat pemahanan agama mereka serta membuka pemikiran orang-orang terpelajar agar mencari dalil dan menelaahnya dengan cermat, memilah berdasarkan dalil apa yang tertulis dalam buku-buku rujukan sebelum menerima suatu pemikiran alih-alih menerapkannya. 
Akar Pemikiran dan Keyakinan  
Dakwah ini adalah kelanjutan dari akidah dan pemahaman agama salaf umat, orang-orang di abad terbaik, dakwah yang menyeru kepada ittiba’ al-Qur`an dan sunnah selaras dengan pemahaman salaf shalih.  
Dakwah ini berawal dari Nejed, selanjutnya menyebar ke wilayah sekitarnya dan mencapai masa keemasan bersama pemerintah Kerajaan Saudi Arabiah di dua tanah suci Makkah tahun 1219 H dan Madinah tahun 1220 H.  
Pemikiran-pemikiran dakwah ini menyebar pula kepada kaum muslimin di negeri-negeri muslim dan dakwah ini turut memberi pengaruh yang signifikan terhadap gerakan-gerakan perbaikan di dunia Islam di masa itu baik secara langsung maupun tidak langsung.  
Dakwah ini tidak selamat dari kebencian para pembenci dan kedengkian para pendengki, mereka melemparkan cap-cap negatif tetapi palsu dan gelar-gelar menakutkan tetapi dusta manakala mereka merasa bahwa dakwah ini mengancam kelangsungan pemikiran mereka, hal ini dilakukan oleh para pengusung bid’ah dan para pendukung aliran-aliran kesesatan. Hal semacam ini lumrah dalam lahan permusuhan antara kebenaran dengan kebatilan, sekalipun akhirnya kebenaranlah yang akan menang dan menghapus kebatilan.  
Sebagian pengikut dakwah ini dikritik, di antaranya sebagai contoh, sikap keras dalam mengingkari kemungkaran dan hanya mementingkan perkra-perkara bid’ah dan syirik dengan melalaikan sisi-sisi Islam yang lainnya.  
Kritik ini disikapi dengan bijak oleh sebagian pengikut lainnya, pada mereka mulai terlihat perhatian yang sangat kentara terhadap masalah-masalah Islam lainnya secara menyeluruh dalam aktifitas-aktifitas dakwah mereka, tidak sedikit dari mereka mulai memegang kendali kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah di berbagai negeri kaum muslimin.  
Alhasil, bahwa dakwah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab adalah seruan yang mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada akidah tauhid yang bersih, berpegang kepada petunjuk salaf shalih. Dakwah ini bepijak kepada al-Qur`an dan sunnah, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memahami dalil dan kembali kepadanya, menyeru dibukanya pintu ijtihad dengan syarat dan ketentuannya, menyeru kepada pemurnian tauhid dari noda-noda syirik yang mengotorinya dan menutup segala jalannya.  
Inilah satu-satu dakwah dan gerakan perbaikan di zaman modern ini yang mampu menegakkan sebuah negara yang berhukum kepada Islam.  

Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani. 
  
Selengkapnya...

Senin, 17 November 2014

Wahhabi dan Fitnah Radikal

Gerakan ini dinamakan Wahhabiyah, muncul sekitar akhir abad 18. Pendirinya seorang ulama terkemuka di zamannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan tujuannya memurnikan ajaran Islam yang sudah tercemar oleh praktik kemusyrikan, bid’ah dan khurafat.

Dia dan para pengikutnya bercita-cita untuk mengembalikan ajaran Islam seperti yang dipraktikkan pada masa Rasul oleh generasi sahabat dan salaf al-salih, karena dalam pandangan mereka hanya dengan cara ini masyarakat Islam bisa bangkit dari keterpurukan dan kemundurannya.

Untuk itu mereka menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, melakukan ijtihad, dan meninggalkan taqlid.

Mungkin disebabkan lokasi tempat berkembangnya yang strategis, yaitu Saudi Arabia, gagasan pembaharuan yang diusungnya segera menggema di seantero dunia. Kata Isma’il Raji al-Faruqi, ia menyebar bagaikan api liar (spread in the last century like wildfire throughout the Muslim world). Ia bergema di India, Sudan, tak terkecuali Indonesia. Bahkan di negara terakhir ini, gagasan pemurnian akidahnya telah menjadi pemicu lahirnya kaum Padri dan organisasi Muhammadiyah.

Wahhabiyah dan Jihad

Sangat disayangkan bahwa dalam wacana pemikiran hari ini gambaran di atas tadi hampir tak pernah kedengaran. Wahhabi lebih selalu diidentikkan dengan radikalisme, militanisme, dan fundamentalisme.

Para pengikutnya dikatakan tidak toleran dan tidak bisa menghargai perbedaan, rigid (kaku) dan literalis, simplistik serta fanatik. Ia juga dikatakan anti sufisme dan hal-hal yang bersifat filosofis-spekulatif. Bahasa mereka, kata pengkritiknya, adalah kekerasan dan kebencian. Bahkan mereka dikatakan sanggup melakukan pembunuhan terhadap orang yang berseberangan dengan prinsip dan akidah mereka.

Demikianlah gambaran yang terekam dalam buku orang-orang seperti Stephen Schwartz, The Two Faces of Islam: The House of Sa'ud from Tradition to Terror, Nina Shea, direktur Center for Religious Freedom, Saudi Publication on Hate Ideology Fill American Mosques,” dan lain-lain.

Dengan gambaran seperti itu, tidak heran jika banyak para analis dan pengamat politik yang menduduh gerakan ini di balik peristiwa 11 September 2001, peristiwa bom London, Madrid, Bali, dan yang terakhir peristiwa Bom Kuningan, Juli 2009. Lebih jauh lagi, seorang muallaf Yahudi neo-con yang bergabung dengan kelompok sufi Naqsyabandiyah Hisyam Kabbani, Stephen Schwarts, dalam wawancaranya dengan National Review menyatakan bahwa gerakan Wahhabiyah inilah yang memberikan inspirasi kepada gerakan perlawanan di Afghanistan, Palestina, Irak, Kashmir hingga sampai ke Chechnya.

Politik Adu Domba

Dalam berhadapan dengan persoalan seperti ini, para tokoh masyarakat serta cerdik cendekia Muslim dituntut untuk lebih bijaksana, menghindar dari melakukan tuduhan secara sarkastik. Hal ini perlu dilakukan karena kita khawatir jangan-jangan isu Wahhabisme dan terorisme adalah bagian dari “fitnah atau perangkap” global yang sedang “dimainkan” oleh orang berkepentingan, yang ingin memecah kekuatan serta konsentrasi umat. Jangan sampai kita terjerumus dalam politik adu domba seperti yang pernah terjadi pada zaman penjajahan.

Kekhawatiran ini terdengar berlebihan, tapi ia bukan tanpa alasan. Mungkin menarik untuk membaca hasil penelitian yang dilakukan oleh Cheryl Benard dkk yang berjudul Building Moderate Muslim Network (Membangun Jaringan Muslim Moderat). Penelitian ini diterbitkan oleh RAND Corporation tahun 2007, dan disponsori oleh Smith Richardson Foundation. Dan ia diharapkan bisa menjadi “road map” dalam berhadapan dengan kelompok yang mereka kategorikan fundamentalis.

Dalam penilitian ini disarankan agar pemerintah Amerika segera membangun hubungan baik dengan kelompok yang mereka sebut “potential partner.” Termasuk dalam kelompok ini adalah Muslim liberal dan sekuler, Muslim tradisionalis, dan kelompok sufis. Karena menurut penelitian ini hanya mereka yang bisa menahan gerak laju kelompok yang mereka namakan fundamentalis, yaitu mereka yang menolak pemisahan negara dan politik dan menuntut penerapan Syariat Islam.

Dengan bahasa yang lugas para peniliti tersebut mengatakan bahwa Muslim tradisionalis dan kaum sufi adalah sekutu alaminya Barat, karena kelompok ini merupakan salah satu korbannya kaum Wahhabi. (Because of their victimization by Salafis and Wahhabis, traditionalists and Sufis are natural allies of the West to the extent that common ground can be found with them).

Abdeslam M Maghraoui dalam makalahnya yang berjudul, American Foreign Policy and Islamic Renewal, mengafirmasi kesimpulan penilitian di atas. Menurut Abdeslam pemerintah Amerika sudah sewajarnya untuk mengambil langkah penting dan strategik dengan memberi dukungan terhadap gerakan “pembaharuan Islam” seperti yang digelontorkan oleh JIL (Jaringan Islam Liberal) dan ICIP (International Center for Islam and Pluralism) di Indonesia atau Sister in Islam di Malaysia dalam usahnya untuk memenangkan pertarungan melawan terorisme.

Jadi sesungguhnya tidak heran, jika di TV dan media massa kita selalu mendengar teriakan kelompok “pembaharu” ini yang menyerang dan mengkritk habis-habisan kelompok Wahhabi dan salafi. Mungkin saja strategi yang disarankan para peniliti di atas sedang dimainkan di Indonesia.

Ibn Abdul Wahhab dan Jihad

Di tengah maraknya kecaman dan kritikan terhadap Abdul Wahhab, ada sebuah disertasi doktor dengan judul Muhammad bin Abdul Wahhab: An Intellectual Biography yang menarik untuk dicermati. Disertasi yang dibimbing oleh Prof John L Esposito ini ditulis oleh Natana Delong-Bas diajukan pada Fakultas Sejarah, Georgetown University, pada November 2002. Penilitian ini sendiri dimulai sejak November 1998, jauh sebelum peristiwa 11 September 2001. Disertasi ini sudah dibukukan dan diberi judul Wahhabi Islam: From Revival and Reform to Global Islam (London: IB Tauris, 2004).

Berbeda dengan wajah seram yang selama ini dipertontonkan oleh media massa dan beberapa penulis tentang Abdul Wahhab dan gerakan pembaharuan yang dimotorinya, Delong-Bas ingin menguak wajah lain dari ajaran yang dibawa sang syekh. Dan itu dibuatnya berdasarkan tulisan-tulisan Abdul Wahhab sendiri dan keterangan orang-orang yang sezamannya. Menurut Delong-Bas Abdul Wahab mengembangkan sebuah pandangan hidup (worldview) didasarkan pada penjagaan dan pemeliharaan jiwa manusia (preservation of human life), mengembangkan sikap toleransi terhadap penganut agama lain, serta mendukung adanya keseimbangan hak antara laki-laki dan wanita.

Menurut Delong-Bas jihad bukanlah tujuan utama dan pertama dari gerakan Wahhabi. Abdul Wahhab sendiri tidak mengajak pengikutnya untuk syahid atau jihad. Jihad menurutnya hanya fard kifayah bukan fard ‘ayn seperti yang diyakini kebanyakan para mufassir Muslim klasik. Jihad juga bukan dijalankan pada tataran individu, tapi negara. Dan oleh sebab itu hanya imamlah yang berhak untuk mendeklarasikan aksi militer, dan itupun harus atas alasan agama dan dengan maksud untuk mempertahankan diri (self-defense), bukan untuk kepentingan pribadi atau mencari kekayaan. (Delong Bas, Muhammad bin Abdul Wahhab, 217)

Delong-Bas selanjutnya menjelaskan bahwa Abdul Wahhab tidak membenarkan melakukan kekerasan (violence) terhadap mereka yang berseberangan dengannya selama orang tersebut tidak melakukan agresi terhadap umat Islam. Demikian juga Abdul Wahhab melarang melakukan penyerangan terhadap Muslim yang berbuat maksiat seperti minum khamar atau orang yang memiliki ikatan perjanjian atau hubungan bisnis dengan orang tersebut. Oleh sebab itu, jika musuh mengirimkan utusan dagangnya ke negara Muslim, orang tersebut berhak mendapatkan proteksi dari orang Islam, kecuali jika orang tersebut bekerja memata-matai, maka dia layak diperlakukan laiknya seorang musuh.

Apa yang lebih menarik adalah bahwa Abdul Wahhab juga tidak membenarkan memerangi kaum musyrik, penyembah berhala, orang Kristen atau Yahudi. Mereka haruslah terlebih dahulu didekati melaui pendidikan dan dialog. Karena hanya dengan cara demikian, hati mereka bisa ditaklukkan. Di samping itu dia juga percaya bahwa konversi agama tidak mungkin bisa dengan paksaan, tapi haruslah datang dari hati terdalam. Menurut Abdul Wahhab jihad mestilah didahului dengan dakwah. Kita tidak dibenarkan membunuh atau melakukan invasi Delong-Bas mengutip pernyataan Abdul Wahhab. Hal ini penting dilakukan karena jihad hanya dilancarkan terhadap orang yang menentang Islam. Dan musuh tersebut harus diberikan kesempatan untuk masuk Islam atau menolaknya sehingga dengan demikian ada alas an untuk memeranginya.

Disertasi Delong-Bas jelas merupakan satu terobosan baru dalam kajian tentang Abdul Wahhab dan gerakannya. Dan sudah pasti tidak semua kalangan terpuaskan. Karyanya ini pun menuai banyak kritik, terutama mereka yang phobia dengan Islam. Oleh sebagian orang dia dijuluki dengan opologist Muslim karena dianggap tidak mewakili mainstream pemikiran yang ada di Barat.

Akan tetapi, paling tidak ini membuka nuansa baru tentang pemikiran Abdul Wahhab. Sayang kajian ini datang dari pusat orientalis dan dari tangan orang yang bukan seagama dengan Abdul Wahhab. Oleh sebab itu, adalah menjadi kewajiban kita sebagai Muslim untuk lebih intens melakukan kajian terhadap pikiran sang Pembaharu ini agar kita tidak ikut-ikutan dengan rentak orang lain yang memang sengaja membuat kekeruhan sesama kita. Wallahu‘alam.

Nirwan Syafrin
Peniliti INSISTS, Guru Ponpes Husnayain
(Rabu, 21 Oktober 2009 12:59 sabili) Selengkapnya...

Rabu, 25 April 2012

Bahaya dan Ancaman Syiah di Seluruh Dunia Islam

Bermula 1 Februari 1978 ketika Ayatullah Khomeini pulang ke Iran dari pengasingan di Paris. Kepulangannya disambut gegap gempita oleh ribuan rakyat Iran.

Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi perpanjangan tangan Shah Iran.

Itulah awal mula revolusi Iran, yang kemudian dikumandangkan sebagai revolusi “Islam” ala Khomeini. Terdengar menggelegak ke seluruh jagad. Khomeini seakan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Seakan Khomeini menjadi sosok atau tokoh anti Amerika dan Barat. Khomeini menjuluki Amerika sebagai “setan besar”. Suara Khomeini yang penuh dengan emosi menggetarkan Dunia Islam, yang masih dalam perbudakan Amerika dan Barat.

Karena itu, banyak kalangan muda di Dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka.

Betapa Ayatullah Khomeini menjadi pahlawan mereka dan dapat menjadi “katarsis” (pelepasan) ketertindasan mereka oleh rezim-rezim yang menjadi kolaborator dan kaki tangan Amerika Serikat dan Barat. Kaum muda di Dunia Islam yang sudah lama tertekan dan tertindas itu, dan dengan penuh semangat dan mengindetikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam “ Iran ala Khomeini.

Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke Dunia Islam, dan lebih-lebih di dunia Sunni, yang sebagian besar dikuasai rezim-rezim yang pro-Amerika dan Barat. Mereka membenci terhadap rezim-rezim di negara mereka, yang korup dan menindas. Mereka membenci kekuasaan yang sangat rakus dan menindas. Ucapan Khomeini yang menyebutkan Amerika Serikat sebagai “setan besar”, menjadikan mereka, terutama kalangan muda, memuaskan dahaga mereka dengan khayalan Khomeini itu.

Sejatinya revolusi “Islam” itu tak lain, hanyalah revolusi kaum “Shiah”, yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Sunni, dan sesudah dua dekade kemudian, banyak muncul kekuatan politik baru di dunia Sunni, yang bercorak ideologi Shiah. Mereka mempunyai pengaruh politik yang sangat luas dan signifikan.

Seperti di Lebanon yang mula-mula, ketika Zionis-Israel melakukan invasi militer ke Lebanon, tahun l982, dan melakukan pembantaian di kamp pengungsi Palestina di Sabra dan Shatila, dilanjutkan pengusiran kekuatan Organisasi PLO yang dipimpin Yaser Arafat ke Tunisia, mengakibatkan terjadinya ke vakuman (kekosongan), yang kemudian diisi oleh kekuatan Shiah.

Iran yang sudah berada tangan Khomeini kala terjadinya invasi Israel ke Lebanon mengirim pasukan Pasdaran (Pengawal Revolusi), dan sekarang menjelma menjadi kekuatan Hesbullah (Shiah), secara de facto dan de jure telah menguasai Lebanon. Hesbullah telah mencaplok Lebanon. Hesbullah terlibat konspirasi membunuh Perdana Menteri Rafiq Hariri (Sunni) bersama dengan Suriah, yang sekarang ini Hesbullah mengambilalih kekuasaan di Lebanon.

Hakikatnya Shiah itu sebagai sebuah gerakan politik dengan menggunakan isu agama, dan menjadikan “ahlul bait”sebagai dasar yang digunakan melanggengkan sentimen terhadap gologan Sunni. Ketika mereka masih minoritas kelompok Shiah selalu berlaku “taqiyah” (berpura-pura), tetapi ketika sudah menjadi kekuatan politik yang memiliki leverage (daya tawar), mereka tidak akan pernah memberi kesempatan terhadap golongan lainnya. Ini berlaku di manapun.

Kekuatan Shiah sekarang membentang mulai dari Lebanon sampai ke Yaman. Seperti bulan Sabit. Melingkar dari atas Lebanon, Irak, Iran, Bahrain, dan Yaman. Di hampir semua negara-negara Sunni, terdapat enclave (kantong) Shiah. Mereka akan menjadi ancaman terhadap kekuasaan Sunni di manapun. Gerakan mereka sangat politis. Mereka akan menyusup dalam jaringan kekuasaan. Inilah bahaya Shiah. Bukan hanya dari segi aqidah semata.

Di Bahrain, di tahun l990, Shiah masih minoritas. Sekarang menjadi mayoritas. Kekuatan Shiah di Bahrain sudah menjadi ancaman negara. Mereka berusaha melakukan penggulingan terhadap kekuasan di Bahrain dengan sokongan dari Iran dan Hesbullah di Lebanon. Di Yaman kekuatan Shiah Houthi melakukan pemberontakan yang tanpa henti. Dengan dukungan Iran. Senjata mereka melimpah. Sampai sekarang pemerintah Yaman tidak bekutik menghadapi Shiah Houthi.

Arab Saudi sekarang menghadapi Shiah. Saudi kewalahan menghadapi kekuatan baru di timur negara itu. Bodohnya para penguasa Arab Saudi, justru yang menjadi target operasi mereka yaitu al-Qaidah, yang justeru mereka menginginkan tegaknya hukum Islam (Allah). Sedangkan kelompok Shiah, sudah jelas-jelas menjadi ancaman dari segi aqidah, tetapi, kerajaan Saudi bersikap lunak dibandingkan menghadapi ancaman al-Qaidah.

Di Indonesia sudah sangat tepat dan wajib, seperti yang dilakukan oleh Forum Ulama dan Umat Islalm Indonesia (FUUI), yang dipimpin oleh Kiai Athian Ali mengumpulkan seluruh ulama dan pimpinan ormas Islam menghadapi ancaman Shiah.

Karena kalangan Shiah di Indonesia, mereka mengklaim sudah memiliki pengikut 4 juta orang. Belum lagi, kalau para mahasiswa Indonesia yang sekarang berada di Qom, dan pulang ke Indonesia, maka ancaman Shiah akan sangat nyata, dan membahayakan bagi masa depan Islam. Karena Shiah bukan hanya sesat secara aqidah, tetapi sepanjang sejarahnya, Shiah menjadi alat musuh-musuh Islam menghancurkann Islam. Wallahu’alam. http://www.voa-islam.com/news/opini/2012/04/23/18771/bahaya-dan-ancaman-shiah-di-seluruh-dunia-islam/
Selengkapnya...

Sabtu, 02 April 2011

Eksistensi Gerakan Syi’ah di Bahrain

al-Tajammua’at al-Syi’iyyah fi al-Bahrain”
Syabakah Rased al-Sunniyah.
Alih bahasa: Ustadz Ahmad Hanafi, Lc, MA

Studi dan penelitian tentang syi’ah di wilayah Arab khususnya kawasan teluk patut mendapat ruang lebih luas. Eksistensinya diwarnai oleh ketidakjelasan dan menimbulkan banyak pertanyaan.

Apalagi hal ini dimanfaatkan untuk memberikan stigma buruk terhadap kaum sunni dengan tujuan menghilangkan andil mereka dalam bidang politik dan kemasyarakatan sebagaimana yang terjadi akhir-akhir ini di Irak.

Apa yang terjadi di Irak patut dijadikan pelajaran, penggelembungan manipulatif persentase jumlah kaum syi’ah Irak dan serangan tajam terhadap kaum sunni yang dibumbui dengan penyebaran wacana bahwa kaum sunni adalah sekutu utama rezim Sadam, pihak yang harus bertanggungjawab dan memikul segala rentetan kejahatan dan citra buruk rezim Sadam Husein.

Semua ini merupakan pintu masuk kaum syi’ah Irak yang didukung oleh Amerika untuk melakukan revolusi terhadap eksistensi kaum sunni. Yang berakibat pada minimnya jatah kursi menteri dan pemegang kebijakan dari kaum sunni di pemerintahan Irak. Semuanya berasal dari satu dasar yang keliru, bahwa jumlah kaum syi’ah di Irak jauh lebih besar dari jumlah pengikut sunni.
Bahrain adalah negara teluk yang luasnya sangat kecil tetapi rentetan kejadian besar di sana patut untuk dicermati lebih lanjut. Eksistensi kaum syi’ah telah memainkan peran yang sangat berbahaya di kawasan ini. Label “mayoritas (aktsariyah)” kaum syi’ah di Bahrain ikut memberi andil terhadap gerakan sporadis serta anarkis yang berujung kepada tuntutan untuk menghapus sistem monarki yang berlaku dengan model pemerintahan Iran. Semuanya berasal dari asumsi bahwa kaum syi’ah di Bahrain adalah mayoritas, yang secara politis digunakan sebagai “jualan” untuk memperebutkan tahta kekuasaan di negara tersebut.

Faktor inilah yang kemudian menarik untuk didiskusikan dalam artikel ini dengan memaparkan perihal eksistensi kaum syi’ah Bahrain, asal mula masuknya faham syi’ah, gerakan dan organisasi syi’ah dan hubungannya dengan Iran, pengaruh hubungan bilateral Bahrain – Iran terhadap eksistensi kaum syi’ah Bahrain.

Kilas balik sejarah
Pada mulanya, semua daerah yang berada di pesisir barat kawasan teluk bernama “Bahrain”, atau lebih tepatnya semua daerah yang berada antara kota Masqat (Muskat) dan Basra. Selanjutnya, nama ini mengalami pergeseran, sehingga Bahrain hanya digunakan sebagai nama negara yang terletak di jantung teluk Arab. Sebelum nama Bahrain daerah ini bernama “Awal” nama sebuah berhala milik dua bersaudara Bakr dan Taglib putra Wail. Karena Bani Wail bersama Bani Abdi Qais adalah penduduk yang menetap di daerah ini pada kurun waktu tersebut.

Sebelum datangnya Islam hingga awal masa kenabian, Bahrain yang berada di daerah pesisir antara Muskat dan Basrah adalah jajahan Persia sejak tahun 615 M, mayoritas tampuk pemerintahan diserahkan kepada kalangan Arab, dari bani Wail dan Tamim, sementara penduduknya terdiri dari kaum Yahudi, Majusi dan Nasrani di samping Arab Najed dari bani Abdi Qais, Wail dan Tamim yang telah disebutkan di atas.

Tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengutus sahabat yang mulia al-‘Ala ibn al-Hadhramiy ke daerah ini sebagai duta dan penyeru kepada Islam, sehingga banyak penduduknya masuk ke dalam Islam. Pada saat Rasulullah wafat, sebagian penduduknya murtad, maka diutuslah kembali sahabat al-‘Ala ibn al-Hadhramiy bersama al-Jaruud Ibn Abd al-Qais kemudian diperkuat oleh Khalid Ibn al-Walid –Radhiyallahu ’anhum- dengan misi mengembalikan mereka ke dalam Islam, dan Islam berhasil bersemai kembali di Bahrain.

Bahrain tetap eksis dalam pemerintahan Islam pada masa Khulafa al-Rasyidin, dinasti Bani Umayyah kemudian dilanjutkan oleh dinasti Bani Abbasiyah, meskipun dalam perjalanannya mengalami beberapa usaha sabotase dan makar yang diprovokasi oleh kaum Khawarij, Shahib al-Zanj (separatis dari kaum Alawiyyin) dan Qaramithah (sekte ekstrim syi’ah bathiniyyah).

Sejak dahulu, kaum Imperialis telah menjadikan Bahrain sebagai incaran, dikarenakan letaknya yang sangat strategis sebagai jalur para nelayan pemburu mutiara serta kekayaan agraris yang melimpah.

Pada dekade berikutnya, daerah ini takluk pada penjajah Oman dan Portugal. Faktor penyebab eksisnya imperialisme barat ke Bahrain, selain dikarenakan kuatnya pengaruh kaum penjajah juga dikarenakan menurunnya kekuatan khilafah Utsmaniyah yang terlalu sibuk mengurusi permasalahan-permasalahan internal.

Kaum Syi’ah Shafawiyah yang memerintah Iran sejak 905 H (1500 M), merasa khawatir dan terganggu dengan meluasnya ajaran Islam seiring dengan meluasnya wilayah kekuasan khilafah Utsmaniyah di barat dan timur. Maka mulailah mereka merancang strategi untuk menghancurkan kaum Utsmaniyyin, dengan cara menikam dari belakang, melakukan konspirasi terselubung, khususnya pada masa pemerintahan Shah Ismail al-Shafawiy. Meletuslah perang antara kedua kubu yang berakhir dengan kekalahan tragis di pihak pengikut Shafawiy. Tetapi konspirasi ini tidak berhenti di sini, Shah Ismail al-Shafawiy mulai menjalin hubungan dengan negara-negara barat untuk “menghabisi” kekuatan khilafah Utsmaniyah, salah satunya kesepakatan yang digalang bersama Afonso de Albuquerque penguasa Portugal di India, yang berintikan 4 poin penting:
1. Angkatan laut Portugal akan membantu misi Iran untuk mengusai Bahrain dan al-Qathif.
2. Kerjasama Portugal dan Iran dalam meredam gerakan separatis di Balochistan dan Mukran (bagian tenggara Iran).
3. Bersatu dalam menghadapi Daulah Utsmaniyah.
4. Pihak Iran harus mengalihkan perhatian terhadap Selat Hormuz (selat yang memisahkan Iran dan UEA, terletak di antara teluk Oman dan teluk Persia, pent) dan menyerahkan pengusaannya kepada pemerintah Portugal serta tidak mencampuri urusan internal selat ini.

Hasilnya, Portugal berhasil menduduki Bahrain sejak 1521 hingga 1602 M, kemudian kembali dikuasai secara berperiodik oleh Iran hingga tahun 1783 M, kemudian didepak dan diusir oleh kaum Arab ‘Utbah yang merupakan asal muasal keluarga Alu Khalifah (penguasa sekarang), yang bekerjasama dalam meminta perlindungan dari pemerintah Inggris hingga deklarasi kemerdekaannya pada tahun 1971 M.

Penduduk Bahrain
Tidak dapat ditutupi, salah satu cara gerakan syi’ah untuk menunjukkan eksistensi politisnya adalah dengan memanipulasi jumlah mereka di setiap negara. Salah satunya adalah Bahrain, yang sebagian mereka mengklaim bahwa persentasi pengikut syi’ah di negara ini baik dari keturunan Arab ataupun Iran mencapai kisaran 60 % sampai dengan 65 % dari jumlah keseluruhan penduduk.


Laporan yang dikeluarkan oleh Ibn Khaldun Center for Development Studies berkaitan dengan permasalahan minoritas pada tahun 1993 menyebutkan bahwa penduduk Bahrain terbagi menjadi tiga kelompok: “Syi’ah Arab berjumlah 45% dari jumlah keseluruhan penduduk, Arab sunni berkisar 45 %, dan penduduk berdarah Iran berjumlah 8 %, sepertiganya adalah sunni dan duapertiganya adalah syi’ah. Kesimpulan akhirnya adalah bahwa persentasi keseluruhan pengikut syi’ah yang berdarah Arab dan Iran adalah 52%, dan persentasi pengikut Sunni Arab dan keturunan Iran Balochistan berjumlah 48%.


Pada tahun 1999 Ibn Khaldun Center meliris data terbaru yang menyebutkan pertambahan signifikan jumlah pengikut syi’ah hingga 70%. Data ini patut dipertanyakan kevalidannya karena tidak mewakili realitas dan fakta hakiki dari jumlah penduduk Bahrain yang sebenarnya. Apalagi data ini tidak didukung dengan bukti-bukti konkrit yang dapat menjelaskan faktor pertambahan tersebut dalam kurun waktu 6 tahun dari angka 52% hingga mencapai 70%, kecuali satu alasan, bertambahnya angka kelahiran di kalangan syi’ah dan semakin bertambahnya jumlah lelaki syi’ah yang berpoligami. Kalaupun alasan ini benar, maka itu tidak lepas dari intervensi dan dukungan moril dan materil dari para pemimpin kelompok syi’ah yang menjamin adanya alokasi khusus yang bersumber dari harta al-khumus (harta yang wajib dizakatkan yang jumlahnya seperlima, menurut ajaran syi’ah) . Yang mengherankan, Ibn Khaldun Center juga melakukan hal yang sama (penggelembungan jumlah pengikut syi’ah) di Irak.

DR. Khalid al-Izzy dalam bukunya “al-Khalij al-Arabiy fi Madhihi wa Hadhirihi” menukil sebuah seruan yang dilontarkan oleh sebuah koran Kuwait berbasis politik tertanggal 5/12/1971 yang pada intinya berisi seruan kepada seluruh rakyat dan pemerintahan negara Arab untuk menghambat dan mengantisipasi bahaya masuknya imigran gelap asal Iran di negara-negara Arab. Koran itu juga menyebutkan bahwa para imigran gelap Iran telah sampai pada antrian kelima, dan patut untuk diwaspadai apalagi sejak takluknya beberapa pulau di Arab (Emirat) ke tangan penjajah. Koran ini juga menyifatkan bahwa gerakan imigran gelap Iran lebih berbahaya dari pada imigran Yahudi (Zionis) ke Palestina yang menjadi penyebab terampasnya sebagian wilayah tersebut ke tangan Yahudi”

Sebelumnya, dalam sidang Liga Arab yang ke-41 tertanggal 31/3/1964 membahas fenomena hijrahnya para imigran asing ke beberapa negara teluk, dan meminta setiap negara yang dimaksud untuk mendata sekaligus mempelajari dampak negatif yang ditimbulkan dari fenomena tersebut.

Kesimpulannya, pertambahan jumlah pengikut syi’ah di kawasan teluk secara umum dan di Bahrain secara khusus disebabkan tingginya jumlah imigran Iran yang masuk ke negara-negara teluk terutama pada masa pemerintahan Inggris serta adanya kelalaian rakyat dan sikap permisif pemimpin negara teluk akan hal ini. Bukti ini diperkuat laporan atau tulisan sebagian orang yang pernah berkunjung ke Bahrain di awal abad ini yang menyifatkan bahwa keberadaan orang Iran di Bahrain masuk dalam kategori pendatang asing.

Amin al-Rayhaniy dalam bukunya “Muluk al-Arab” yang terbit tahun 1921 M, halaman 721, menyebutkan:
“Bahwa meskipun luas Bahrain sangat kecil, tetapi negara ini dipadati oleh dua ratu ribu penduduk Arab dan non Arab yang berasal dari timur dan barat. Tetapi asal, hukum, bahasa dan ruhnya adalah bergaris Arab, karena mayoritas penduduknya adalah orang Arab asli yang berasal dari Najed. Penduduknya terbagi menjadi pengikut madzhab Maliki, Syafi’i, Hambali, dan Ja’fari. Walaupun pengikut madzhab Ja’fari keberadaannya seperti orang India yang dikategorikan sebagai pendatang asing karena asal mereka dari Iran atau berdarah Iran”.

Hasil pemilu tahun 2002 pada tingkat Baladiyah (daerah) pengikut syi’ah berhasil meraih 25 kursi dari 50 kursi yang diperebutkan. Adapun pada tingkat parlemen, mereka berhasil meraih 13 kursi dari 40 kursi yang diperebutkan. Fakta ini dapat memberikan gambaran umum, tentang jumlah hakiki pengikut syi’ah di Bahrain.

Meskipun di tingkat parlemen, dikarenakan sebagian organisasi berbasis syi’ah memboikot pemilu dapat dijadikan sebagai alasan kecilnya jumlah kursi yang mereka raih (sepertiga dari jumlah kursi yang diperebutkan). Tapi di tingkat daerah (baladiyah) yang diikuti oleh seluruh lapisan pengikut syi’ah, mereka hanya mampu meraih kurang dari setengah. Maka fakta ini seharusnya menggugat “klaim mayoritas mutlak” yang mereka dengung-dengungkan selama ini.

Pengaruh hubungan bilateral Bahrain – Iran terhadap eksistensi syi’ah di Bahrain
Sebelum membahas masalah ini, ada dua fakta yang harus dikemukakan:

Pertama: Setelah meletusnya revolusi Khomeini tahun 1979 M, Iran menjadi kiblat kaum syi’ah di seluruh dunia. Iran dijadikan sebagai acuan dan referensi utama setiap gerakan syi’ah di dunia. Meskipun hal ini tidak menafikan adanya beberapa pihak dan gerakan oposisi (penentang) dari kalangan syi’ah sendiri yang berseberangan dengan Iran, disebabkan persaingan dengan Khomeini dalam merebut tahta kepemimpinan, yang kemudian menjadi pemicu utama terpecahnya kubu Mujahidin Khalq Iran (pendukung utama revolusi Khomeini) menjadi beberapa gerakan dan tokoh syi’ah. Dan warna gerakan syi’ah yang berkiblat pada Iran tidaklah terpatok pada sosok “Pemerintahan Khomeini”, tetapi sebenarnya terpusat kepada “Pemerintahan Dinasti Shafawiyah” yang telah berkuasa di Iran sejak tahun 906 H (1500 M).

Kedua: Peran imigran syi’ah di setiap negara, terutama di kawasan teluk, baik dan tidaknya sangat bergantung kepada sejauh mana hubungan negara tersebut dengan Iran. Dan para imigran ini telah menjadi “agen” Iran dalam merealisasikan agenda Iran di negara tersebut.

Dalam konteks ini, hubungan Iran-Bahrain di sebagian besar periode hubungan keduanya dipenuhi dengan banyak keraguan dan tanda tanya, pemicunya adalah “kerakusan” dan “klaim” bahwa kawasan ini termasuk dalam kawasan Iran. Buktinya, pemerintah Iran tidak mengakui legalitas paspor yang dikeluarkan oleh otoritas Bahrain. Bahkan mereka meyakini bahwa Bahrain adalah “warisan” Iran hari ini, karena wilayah ini merupakan salah satu wilayah kerajaan Persia sejak dahulu.

Misi “kekuasaan” ini tidak hanya berlaku pada Bahrain, bahkan sejak tahun 1971 dan 1992, Iran telah merampas 3 pulau (Thanab al-Kubro/Greater Tunb, Thanab al-Sughro/Lesser Tunb dan Abu Musa) yang masuk dalam wilayah Uni Emirat Arab dan hingga hari ini enggan melepaskannya.

Fakta (pandangan Iran terhadap kawasan teluk) ini diperkuat oleh sebuah orasi yang pernah disampaikan oleh Haji Mirza Aghasi, Perdana Menteri Iran tahun 1944, bahwa: “Sesungguhnya perasaan yang bergejolak pada semua “generasi” pemerintahan Persia adalah seluruh daerah yang terletak antara Shatt al-Arab (Pantai Arab) sampai ke kota Muskat beserta seluruh pulau dan pelabuhannya tanpa terkecuali adalah milik kerajaan Persia”.

Fakta di atas bertolak belakang dengan apa yang dipaparkan oleh Louis Massignon (1962), seorang orientalis Prancis: “Dari sisi jarak letak Bahrain lebih dekat ke kota al-Ahsa kurang lebih sejauh 24 km, dibandingkan jaraknya ke Iran sekitar 200 km”.

Secara periodik, Iran pernah memerintah Bahrain sejak tahun 1602 hingga mereka diusir oleh Alu Khalifah pada tahun pada tahun 1783 M. Dan Dinasti Shafawiy menjadi bukti salah satu periode “kerakusan Iran” terhadap kawasan ini, kemudian “tradisi” ini diwarisi oleh Dinasti Bahlawy. Muhammad Ridha Bahlawy seorang Shah Iran senantiasa menebarkan ancaman terhadap Bahrain dan menganggapnya salah satu di antara kawasan kepulauan Iran. Tetapi dalam perjalanannya, Inggris yang pernah menduduki Iran berhasil melumpuhkan strategi ini, dengan imbalan Inggris tidak akan mengusik ketiga pulau Emirat yang diduduki oleh Iran. Hingga akhirnya, pada tahun 1971 M hasil referendum rakyat Bahrain yang mayoritasnya memilih untuk merdeka dan memisahkan diri.

Bersamaan dengan bergejolaknya revolusi Khomeini tahun 1979, Iran kembali menghidupkan bahkan meng”ekspor” semangat revolusi yang berintikan penyebaran faham dan mazdhab Iran dengan kekuatan. Hasilnya, perang yang berkepanjangan dengan Irak selama 8 tahun yang efek negatifnya juga dirasakan oleh negara-negara kawasan teluk. Khomeini pernah berkata: “Kaum muslimin pernah diperintah oleh orang Arab, orang Turki bahkan oleh etnis Kurdi, maka seharusnya orang Persia juga mampu, karena sejarah dan peradabannya telah eksis jauh sebelum mereka”.

Kaum syi’ah Bahrain terbagi menjadi dua kelompok di awal revolusi Iran:
Kelompok pertama: Kelompok kecil, yang menuntut sejumlah perubahan dan perbaikan akan eksistensi syi’ah.

Kelompok kedua: Kelompok besar, yang menuntut reformasi pemerintahan dari bentuk monarki ke bentuk negara republik seperti yang berada di Iran.
Richard Dekmejian menyebutkan bahwa karena faktor “keturunan Persia” , kelompok syi’ah merasa terpinggirkan di Bahrain. Oleh sebab itu, mereka meminta bantuan Iran. Maka Khomeini berusaha memprovokasi pengikut syi’ah - (bertentangan dengan usaha Shah Iran yang hanya menginginkan masuknya Bahrain dalam kekuasaan Iran) – untuk melengserkan Alu Khalifah dari tampuk kekuasaan. Dan dibentuklah “al-Jabhah al-Islamiyah li Tahrir al-Bahrain” (Front Islam Untuk Pembebasan Bahrain) sebagai wadah utama gerakan ini. Salah satu tokohnya yang bernama Hadi al-Modarresi pernah diekstradisi oleh pemerintah Bahrain, yang kemudian memprovokasi gerakan radikal di kalangan syi’ah. Ia juga pernah dituduh terlibat dan mempunyai peran penting dalam usaha kudeta di Bahrain tahun 1981.

Kaum syiah Bahrain merasa bangga dengan peran mereka dalam merealisasikan kemerdekaan Bahrain tahun 1971 yang mereka jadikan sebagai bukti konkrit akan loyalitas mereka kepada negara mereka dan bukan sebagai antek Iran, sebagaimana yang disuarakan oleh seorang tokoh oposisi syiah Abdul Wahhab Husain. Tetapi hal yang perlu dicatat, bahwasanya sikap ini (loyalitas kepada Bahrain) lahir akibat adanya pertarungan dan permusuhan antara tokoh agama syi’ah (Imam) dengan para shah (penguasa/raja Iran). Maka secara logika, mereka tidak mungkin menuntut dimasukkannya Bahrain ke dalam kekuasaan Iran di bawah pemerintahan shah, sementara bersamaan dengan itu mereka berusaha untuk menggulingkan kekuasaan shah. Apalagi pelaksanaan referendum (Bahrain) dilakukan semasa Iran masih dikuasai oleh para Shah, delapan tahun sebelum terjadinya revolusi Khomeini yang di kalangan syi’ah di seluruh dunia dijadikan sebagai model dan panutan, yang selanjutnya (semangat revolusi) menjalar dan menyulut semangat kaum syi’ah di kawasan teluk secara umum dan di Bahrain secara khusus untuk kembali menyuarakan tuntutan agar Bahrain tunduk kepada Iran yang dijadikan sebagai kiblat gerakan syi’ah. Dan (semangat) itu, diwujudkan dalam bentuk tindakan anarkis dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok syi’ah Bahrain terutama di tahun 80-an dan di awal tahun 90-an. Dimana poster-poster para tokoh syi’ah Iran (Khomeini) dan Hizbullah Libanon pro Iran, menjadi sesuatu yang biasa dan menjadi pemandangan rutin di setiap aktivitas dan demonstrasi kaum syi’ah di Bahrain.

Sejak awal, dan khususnya setelah meletusnya revolusi Iran tahun 1978 yang menjadi momentum awal terbentuknya paradigma ekspor semangat revolusi (fikrah tashdir al-Tsaurah) ke negara lain , gerakan perlawanan kaum syi’ah Bahrain telah merapatkan barisan dengan membentuk sebuah organisasi pertama yang mewadahi semangat ini yang mereka namakan “al-Jabhah al-Islamiyah li Tahrir al-Bahrain” (Front Islam Untuk Pembebasan Bahrain) yang didirikan pada bulan Sepetember, beberapa bulan setelah meletusnya revolusi Iran. Kemudian disusul dengan berdirinya “Harakah Ahrar al-Bahrain al-Islamiyah” (Gerakan Pembebasan al-Bahrain al-Islamiyah) yang berpusat di London. Kemudian muncullah “Hizbullah al-Bahrain” yang dipandang oleh pemerintah Bahrain pada awalnya sebagai salah satu cabang gerakan organisasi “Hizbullah” yang merupakan wadah gerakan politik kaum syi’ah pro revolusi di luar Iran .

Pada tahun 1999, setelah terjadinya beberapa peristiwa bentrokan berdarah antara kaum syi’ah dan pihak berkuasa, dan yang terparah pada tahun 1994, situasi di Bahrain menjadi relatif lebih kondusif, ditandai dengan penyerahan tampuk kekuasaan kepada Syeik Hamd Ibn Isa sebagai pengganti pendahulunya Isa Ibn Salman. Bahrain memasuki era baru, kondusi dalam negeri yang lebih aman, amnesti yang diberikan kepada para tahanan politik dan dibukanya kran kebebasan. Kaum syi’ah memanfaatkan situasi ini, yang utama adalah dengan membentuk organisasi-organisasi massa yang hakikatnya memainkan peran politik, dikarenakan adanya larangan membentuk partai politik di Bahrain.

Hal yang patut digarisbawahi, meskipun mayoritas syi’ah Bahrain adalah pro Iran, tetapi ada beberapa simpul-simpul penting syi’ah Bahrain yang anti Iran dan menjadi loyalis penuh pemerintah Bahrain.

Organisasi-organisasi Syi’ah di Bahrain
1. Jam’iyyah al-Wifaq al-Wathaniy al-Islamiyyah:
Organisasi ini adalah perpanjangan tangan kelompok oposisi “Harakah Ahrar al-Bahrain” yang berada di luar Bahrain. Organisasi ini dikomandoi oleh Ali Salman, didampingi oleh Hasan Musyaymi’ sebagai wakil. Ia merupakan perkumpulan terbesar kaum syi’ah Bahrain. Provokator terdepan beberapa bentrokan dengan pihak berkuasa antara tahun 1994 – 1998. Organisasi ini juga yang menyerukan pemboikotan pemilu parlemen Bahrain tahun 2002, padahal keterwakilan kelompok syi’ah di parlemen merupakan salah satu tuntutan utama gerakan ini.

Dalam sebuah konfrensi pers, pemimpin organisasi ini menafikan adanya hubungan antara gerakan rakyat Bahrain dengan pemerintah Iran. Bahkan dalam muktamar pertama organisasi ini, ia mengatakan bahwa organisasi ini bekerja sesuai dengan aturan pemerintah Bahrain, yang mengisyaratkan loyalitas kaum syi’ah kepada pihak berkuasa.

Hal ini tidak aneh, karena Iran telah merubah strategi politik luar negerinya dari Tasdir al-Tsaurah (ekspor semangat revolusi) menjadi al-Infitah al-Tsaqafiy (keterbukaan budaya). Yang salah satu produknya adalah seruan cinta tanah air dan pembelaan terhadap hak-hak warga negara yang terintimidasi oleh pihak lain.

2. Jam’iyyah al-‘Amal al-Islamiy
Gerakan syi’ah bersifat terbatas, yang merupakan perpanjangan tangan dari gerakan “al-Jabhah al-Islamiyah li Tahrir al-Bahrain”. Dipimpin oleh Muhammad Ali al-Mahfudz, seorang yang kerap melancarkan serangan negatif kepada organisasi Sunni (seperti: al-Minbar, al-syuro’ dan al-Ashalah) sebagai salah satu cara untuk merealisasikan tujuannya. Organisasi ini juga terlibat dalam pemboikotan pemilu parlemen tahun 2002.

3. Jam’iyyah al-Rabithah al-Islamiyyah
Kelompok syi’ah pro pemerintah. Kelompok ini berhasil mendapatkan dua kursi pada pemilu parlemen yang terakhir.

4. Jam’iyyah Ahl al-Bayt
Merupakan gerakan syi’ah. Kantor baru gerakan ini diresmikan pada tanggal 20/5/2003 di kota al-Muharraq. Diantara tokohnya adalah Abdullah Haydar dan Muhammad al-Firdausy. Memiliki situs resmi Ahlul-Bayt.net.

5. Jam’iyyah al-Risalah al-Islamiyyah
Gerakan ini diwarnai oleh al-Modarresi dan al-Syairazi. Telah mengadakan muktamar pertama untuk aktifis perempuan gerakan ini pada bulan Oktober 2002, yang pada saat berlansungnya muktamar ini melakukan telekonferensi dengan Hadi al-Modarresi, tokoh pendiri dan paling berpengaruh dalam gerakan ini sejak tahun 70-an di Bahrain. Organisasi ini pernah meluarkan kecaman keras terhadap organisasi Mujahidin Khalq yang menahan syekh Mohammad Taqi al-Modarresi salah satu tokoh rujukan syi’ah ketika ia berada Irak. Bersama dengan Jam’iyyah Ahl al-Bayt, organisasi ini juga melakukan usaha pengumpulan dana bantuan untuk Irak pada saat terjadinya invasi Amerika di negara tersebut.

6. Jam’iyyah al-Taw’iyah al-Islamiyyah
Dipimpin oleh Abdul Wahab Husain. Merupakan sayap Jam’iyyah al-Wifaq dalam bidang budaya dan kemasyarakatan. Dimana Jam’iyyah al-Wifaq lebih fokus pada aktifitas politik. Organisasi ini merupakan organisasi dakwah yang pada akhirnya ditutup oleh pemerintah pada tahun 1982.

Disamping mendirikan beberapa organisasi yang berperan di bidang politik, kebudayaan dan kemasyarakatan. Kaum syi’ah Bahrain juga memainkan peran penting lainnya, diantaranya:
1. Mendirikan dan mencetak koran harian “al-Wasat”. Redaksinya dipimpin oleh Mansoor al-Jamri seorang tokoh oposisi syi’ah yang merupakan putra ulama syi’ah terkemuka Abdul Amir al-Jamri.
2. Mengupayakan keikutsertaan pemerintah dalam perayaan-perayaan syi’ah seperti: perayaan Asyura dan Maatim (perkumpulan untuk menangisi kematian seorang tokoh yang dihormati, pent), berupa bantuan dana dan kemudahan bagi peserta luar yang berasal dari Iran, Irak dan Suriah.
3. Kembalinya beberapa tokoh oposisi syi’ah ke Bahrain dan dibolehkannya mereka untuk melakukan aktifitas normal, seperti: al-Jamri, al-‘Alawi dan Ali salman.
4. Keputusan resmi pemerintah tentang diajarkannya mazhab syi’ah Ja’fari oleh guru-guru yang ditunjuk di setiap jenjang pendidikan.
5. Memperkuat hubungan Bahrain dengan lembaga-lembaga syi’ah di luar negeri seperti Institut al-Khoei yang berpusat di London yang memfasilitasi sebuah muktamar yang bertajuk “Taqrib baina al-syi’ah wa al-sunnah” (mendekatkan jarak antara syi’ah dan sunni) di Bahrain pada bulan September 2003.

Pemilu Daerah dan Parlemen
Dalam era keterbukaan di Bahrain sejak tahun 1999, telah dilakukan pemilu baik pada tingkatan perwakilan daerah (DPRD) pada tanggal 9/5/2002, dan pada tingkatan parlemen (DPR) pada tahun 24/10/2002. Hasilnya, pada tingkat daerah kaum sunni berhasil merebut 27 kursi dari 50 jumlah kusi yang diperebutkan, sedangkan kaum syi’ah berhasil meraih sisanya 23 kursi. Pada pemilu parlemen, dimana sebagian organisasi syi’ah memboikot pemilu ini dengan alasan beberapa usulan mereka ditolak oleh pemerintah, diantaranya: amendemen beberapa aturan yang membatasi wewenang badan legislatif dan penunjukan badan khusus yang mempunyai wewenang setara dengan badan legislatif tersebut, pencabutan larangan terhadap organisasi-organisasi massa untuk melakukan aktifitas politik praktis, yang dikemudian hari tuntutan yang kedua ini diakomodir oleh raja Bahrain dengan dibolehkannya setiap ormas mencalonkan dua calon dan terlibat aktif dalam dunia politik.

Hasilnya, di majlis perwakilan pihak sunni berhasil meraih 27 kursi dari 40 kursi yang diperebutkan. Sementara pihak syi’ah berhasil meraih 13 kursi. Sementara di majlis khusus, dari 40 kursi yang disediakan, 38 kursi dibagi secara adil antara sunni dan syi’ah, sementara 2 kursi yang tersisa masing-masig diberikan kepada perwakilan kaum Yahudi dan Nashrani. Di sisi lain, setelah pemilu parlemen, terbentuklah susunan kabinet pemerintahan dengan diakomodirnya jatah menteri untuk beberapa tokoh dari kalangan syi’ah, diantaranya:
1. Majid al-Alawi sebagai menteri tenaga kerja dan urusan sosial.
2. Muhammad Ali al-Satari sebagai menteri urusan daerah, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur badan wakaf “al-Ja’fariyah”.
3. Khalil Hasan sebagai menteri kesehatan.
4. Abdul Husein Mirza, terpilih menjadi menteri pertama dalam kabinet Bahrain yang berdarah Iran.

Daftar Rujukan
1. al-Ushuliyyah fi al-‘Alam al-‘Arabiy, oleh: Richard Dekmejian.
2. Wa Jaa Dawr al-Majus, oleh: DR. Abdullah al-Ghuraib.
3. Wail li al-‘Arab: Maghza al-Taqaarub al-Iraniy ma’a al-Gharb wa al-‘Arab, oleh: Abdul Mun’im Syafiq.
4. Athlas al-Islam, oleh: DR. Husain Mu’nis.
5. Muluk al-‘Arab, oleh: Amin al-Rayhaniy.
6. al-Shafawiyyun wa al-Daulah al-Utsmaniyyah, oleh: Abu al-Hasan ‘Alawi ‘Athrajiy.
7. Humum al-Aqalliyat, Laporan Tahunan Pertama Ibn Khaldun Center for Development Studies tahun 1993 di Mesir.
8. al-Milal wa al-Nihal wa al-A’raq, Laporan Tahunan Ke-6 Ibn Khaldun Center for Development Studies tahun 1999.
9. al-Khalej al-‘Arabiy: Dirosah Muwjazah, oleh: Maktab al-Di’ayah wa al-Nasyr wa al-‘Ilam.
10. al-Khalej al-‘Arabiy: fi Madhihi wa Hadhirih, oleh: DR. Khalid al-‘Izzy.
Jurnal dan Situs:
1. Majalah Mukhtaarat Iraniyyah.
2. Majalah al-Wathan al-‘Arabiy.
3. Majalah al-Nur.
4. al-wakalah al-Syi’iyyah li al-Anbaa’. (ebaa.net)
5. aljazeera.net

(Terjemahan makalah yang berjudul “al-Tajammua’at al-Syi’iyyah fi al-Bahrain”, oleh:Syabakah Rased al-Sunniyah. http://www.albainah.net/index.aspx?function=Item&id=6318&lang. Alih bahasa: Ahmad Hanafi)
Selengkapnya...

Kamis, 17 Maret 2011

Aqidah Agama Syi’ah

FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIEM

Segala puji bagi Allah, Tuhan pemberi hidayah kita kepada Islam, dan tiada mungkin kita mendapat petunjuk sekiranya bukan dengan hidayah Allah SWT. Shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi-Nya yang mulia, yang telah meninggalkan kita pada jalan yang terang sehingga malamnya laksana siang, tiada sesat orang yang berjalan meniti jalan-Nya dan tiada terbimbing orang yang menyimpang dari pada-Nya. Shalawat dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya sebaik-baik manusia yang telah menjadi bintang-bintang penunjuk jalan, begitu pula teruntuk barangsiapa yang mencintai mereka dan mengikuti petunjuk mereka sampai kelak hari kiamat dan hancurnya bumi dan langit.

Kata-kata ini menjelaskan kepercayaan Syi’ah dan Aqidahnya, saya himpun dalam kerangka ini dari Buku-buku Induk Agama dan sumber referensi mereka, dengan menyebut nama buku rujukan itu dan nomor halamannya, agar menjadi saksi, bahwa apa yang kami katakan dan nukil adalah semata-mata dari kajian dan literatur mereka sendiri.


Selanjutnya saya susul dengan kumpulan Fatwa Imam-imam dan Ulama Kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah, menjelaskan pendirian mereka mengenai kepercayaan dan I’tikad kaum Syi’ah Rawafidh.
Kumpulan fatwa itu saya nukil dengan sedikit keringkasan (dari sebuah Risalah yang ditulis oleh Dr. Nashir al Ghitari) dengan harapan akan memberikan penerangan kepada kaum Muslimin Ahlissunnah Wal-Jama’ah agar mereka tidak tertipu oleh berbagai slogan Syi’ah, atau dengan aneka macam propaganda mereka yang mempesona.

Sebab banyak orang di kalangan kaum muslimin karena prasangka mereka yang baik dan hati mereka yang tulus, serta kurangnya pengetahuan mereka perihal kepercayaan Syi’ah dan buku-buku agama mereka, telah menjadi korban tipuan propagandis-propagandis Syi’ah dan dalang-dalangnya. Dan hal yang menyedihkan sekali, ada sebagian orang dikalangan Ahlissunnah Wal-Jama’ah yang disebut dengan nama Ilmuwan, telah tertipu oleh tipu muslihat Syi’ah dan terbius oleh alunan irama langgam mereka, padahal sekiranya ilmuwan-ilmuwan itu waspada dan sadar sejenak dan berupaya untuk membaca dan meneliti buku-buku rujukan agama Syi’ah, niscaya akan menjadi jelas bagi mereka kejelian Firman Allah:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Israa’: 36).

Bila demikian halnya, gerangan apakah yang bakal disediakan oleh ilmuwan-ilmuwan itu dihadapan Allah SWT nanti untuk menetralisir kegegabahan mereka yang telah menjatuhkan banyak korban yang telah tersesat dalam Aqidahnya di kalangan anak-anak muda Ahlissunnah Wal-Jama’ah disebabkan oleh tulisan-tulisan maupun ucapan simpati mereka terhadap doktrin Syi’ah dan kaumnya, Sambung-rasa mana telah disebar-luaskan oleh media propaganda mereka serta lembaga pendekatan mereka yang telah menghembuskan angin berbisa untuk mensyi’ahkan kaum Muslimin di tengah-tengah kampung halamannya. Hanya kepada Allah-lah kami hadapkan keluhan kami dari pola berpikir picik mereka itu. Perlu anda ketahui juga, bahwa yang terbanyak dikalangan Syi’ah sendiri dalam memeluk agama, mereka tidak tahu menahu tentang buku-buku rujukan agama mereka, karena buku-buku itu dijauhkan dari penglihatan mereka dan ditarik dari peredaran di tengah-tengah mereka, dengan demikian pengetahuan dan cara mereka beragama, adalah semata-mata taklid buta kepada apa yang diindoktrinasikan dan disuapkan kepada mereka oleh penghulu-penghulu dan juru-juru kunci imam-imam mereka dengan memanipulasi slogan “Pembela Ahlilbait” yang selalu mereka jadikan umpan dan kuda tunggangan keserakahan mereka, padahal I’tikad dan kepercayaan, ucapan dan perangai mereka sungguh bertolak belakang dengan I’tikad, prilaku dan perangai “Ahlilbait Radhiallahu Anhum”.

Adapun yang menjadi norma dan kriteria kaum Syi’ah perihal “Cinta dan Membela Ahlilbait” adalah: Mengagungkan dan mensucikan mereka, mengangkat mereka ke derajat Ketuhanan, memuja-muji mereka secara berlebihan, memaki, mengutuk para Sahabat Nabi dan para istri beliau serta berdusta atas nama Rasul Allah dan Ahlilbait dengan mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka katakan, mempercayai kepercayaan yang tidak pernah mejadi kepercayaan mereka dan menuduh Ahlilbait membuat sesuatu yang tidak pernah dibuatnya.

Tingkah laku durhaka inilah yang menjadi tolak-ukur, norma-norma, dan kriteria Syi’ah Rawafidh menjadi slogan “Membela dan cinta kasih kepada Ahlilbait”. Maka dengan slogan dan doktrin itu, penghulu-penghulu Syi’ah membius pengikut-pengikut mereka dan yang mengorbit dalam lingkaran mereka, untuk tetap mengontrol dan menguasai pengikut-pengikut yang terlena itu, agar mengalir terus-menerus kepada penghulu-penghulu itu, harta-harta yang terkumpul dari peziarah-peziarah Gua Imam mereka yang ghaib serta Masyad-masyad Imam-imam mereka dan para muridnya; dan lebih dari itu upeti KHUMUS yang dikenakan atas tiap orang Syi’ah dalam semua lapangan hidupnya yang harus dibayar tanpa dikurangi sepeser pun kepada penghulu-penghulu mereka oleh massa Syi’ah yang terbius dan tertipu itu.

Pemerkosaan-pemerkosaan ini, dilakukan dengan mencatut nama Ahlulbait, sedangkan Ahlulbait tidak ada hubungannya dengan mereka serta bersih dari tuduhan palsu mereka itu.

Syi’ah telah mengkafirkan siapa saja yang tidak cenderung kepada mereka dan tidak percaya dengan kepercayaan mereka, dimulai dengan mengkafirkan para Sahabat Nabi Saw dan para istri beliau, terus kepada imam-imam dan ulama kaum Muslimin serta umat Islam pada umumnya.

Dan untuk menopang tindakan mereka mengkafirkan itu, mereka tidak segan-segan membuat hadits-hadits palsu dan berdusta atas nama Rasulullah saw, dan para imam Ahlilbait, begitu juga, mereka menta’wil memutar balikkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk dipaksakan memenuhi selera mereka dalam menafsirkannya sekalipun menyimpang jauh dari kaidah-kaidah bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an itu sendiri, dan tidak kepalang tanggung, mereka menganggap ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dapat dipaksakan untuk menopang selara mereka itu telah di ubah ayat-ayatnya dan diganti oleh para Sahabat Nabi Saw, malah menganggap Kitabullah secara keseluruhan sudah bukan asli lagi dan telah diubah dan dikurangi oleh para Sahabat itu, sedangkan yang asli hanya ada di tangan imam mereka yang ghaib. Demikianlah apa yang menjadi I’tikad dan kepercayaan kaum Syi’ah Rawafidh.

Saudara-saudara seiman, apabila anda membaca buku-buku sejarah Islam, maka anda akan menjumpai dari mulai kelompok Syi’ah ini didirikan sampai hari ini dan seterusnya, yang hanya Allah saja yang tahu kapan malapetaka ini berakhir, Syi’ah itu mengemban satu risalah, satu misi saja, ialah membuat makar terhadapa Agama Islam dan kaum Muslimin, serta bergandengan tangan dengan musuh-musuh Allah untuk menumpas Islam dan kaum Muslimin.

Apabila anda meneliti sejarah Islam, maka sepanjang sejarah itu, tidak akan anda temukan satu pun upaya maupun pembelaan dan loyalitas mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin, tetapi yang dibuktikan oleh sejarah adalah sebaliknya.

1. Pembunuhan terhadap Khalifah Alfaruq (Umar Ibnul Khaththab ra) dilakukan oleh mereka melalui Abu Lu’lu’ah Almajusi yang diberi gelar oleh Syi’ah dengan gelar Baba Syujauddin (Pahlawan agama sejati) dan hari terjadinya pembunuhan itu dijadikan hari raya oleh mereka.

2. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan ra, telah direncanakan dan dilakukan oleh tangan-tangan berdarah mereka (oleh Abdullah bin Saba’ dan kader-kadernya).

3. Khilafah Abbasiah yang merupakan Khilafah Ahlilbait dari anak keturunan Alabbas bin Abdul Muthalib dari Bani Hasyim, telah mereka tumbangkan dengan membunuh ratusan ribu kaum Muslimin, laki-laki dan perempuan, tua dan muda karena pengkhianatan dan persekongkolan pemimpin-pemimpin mereka Nashiruddin Atthusi dan Ibnul Algami dengan Hulaku Khan dan bala tentara Mongolnya.

4. Sejarah pun mencatat kejahatan dan pembunuhan terhadap seratus enam puluh ribu jiwa muslim dari suku Quraisy, sukunya Rasulullah saw, oleh algojo mereka Abu Muslim Alkhurasani.

5. Pemberontakan Az-Zinj yang memakan banyak korban dan yang menumpahkan banyak darah, telah didalangi dan dipimpin oleh tokoh-tokoh mereka.

6. Memasuki kota Mekkah di musim Hajji dan membunuh puluhan ribu Haji dan menyumbat sumur Zam-zam dengan sebagian mayat-mayat mereka kemudian membongkar Ka’bah, kiblatnya kaum muslimin dan mencuri Alhajarul Aswad adalah perbuatan biadab dan durhaka mereka.

7. Berkhianat terhadap kaum Muslimin dan bersekongkol dengan balatentara Salib dan menghalangi Shalahuddin Alayyubi agar tidak membebaskan Baitalmaqdis dan Al-Aqsha serta seluruh Palestina dari cengkeraman balatentara Salib, adalah dengan pengkhianatan dan bekerja sama kerajaan mereka yang menamakan diri dinasti Fathimiyyah dengan bala tentara Salib.

8. Kerajaan Syi’ah Shofawiyah di Iran telah bersekongkol dengan Yahudi, Nashrani dan free Masonry untuk menjatuhkan Khilafah Utsmaniyah, yang merupakan perbentengan terakhir bagi Islam dan kaum Muslimin di kala itu untuk membendung penjajahan Barat; dan yang lebih celaka lagi, mereka Syi’ah itu membatalkan Hukum Jihad dengan alasan Imam mereka yang ghaib belum keluar dari persembunyiannya, agar supaya kaum Muslimin terus menerus tertindas dan terhina di bawah belenggu penjajahan.

9. Kejadian-kejadian ini adalah fakta sejarah, sepanjang sejarah Islam yang telah lalu, yang mencatat kejahatan dan pengkhianatan Syi’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin, sejarah modern hari ini pun mencatat kejahatan-kejahatan mereka yang serupa yang dilakukan oleh Syi’ah Nushairiyyah di Syria dengan membunuh dan membantai secara massal Jamaah Al Ikhwanul Muslimin, begitu juga keganasan dan pembantaian yang dilakukan oleh Amal Syi’ah maupun Syi’ahnya Khumaini di Lebanon terhadap warga Palestina. Begitu halnya dengan pengkhianatan-pengkhianatan mereka di Afghanistan yang bukan rahasia lagi.

Ini semua adalah bukti sejarah atas sikap dan tindakan makar mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin sepanjang sejarah yang lalu maupun sejarah modern kini.

Kepada setiap Mukmin yang beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, Hari Akhirat, Ketentuan Qadha yang baik maupun yang buruk. Kamitujukan tulisan ini kepada mereka agar dapat dengan jelas mengetahui hakekat Agamanya, mengetahui dengan secara yakin siapa yang menjadi saudaranya sesama satu Kiblat dan siapa yang mengaku-aku, padahal mereka itu sesat dan menyesatkan sekali dan keluar dari jalan yang benar. Sehingga dengan demikian saudara tidak terkecoh antara yang hak dan bathil, atau sesuatu yang benar tetapi ternyata dimanipulir untuk kebathilan. Karena Allah swt telah menjelaskan kepada kita dengan mengutus Rasul-Nya saw jalan yang lurus dan memberi petunjuk kepada kita pada jalan-Nya yang lurus serta menyempurnakan untuk kita agama-Nya itu di dunia ini sampai hari Kiamat. Sedangkan di luar yang benar yang ada hanyalah kesesatan yang nyata.
Selengkapnya...

Sabtu, 19 Juni 2010

Incar Kekuasaan, Iran Persenjatai Pasukan Syi'ah Afghanistan

KABUL (Berita SuaraMedia) – Sejumlah sumber di Afghanistan memperingatkan bahwa pemerintah Iran kini menggerakkan pasukan yang setia pada tokoh-tokoh Afghanistan dari etnis Tajik dan bisa berbahasa Farsi, seperti Burhanuddin Rabbani, dan Ahmad Shah Masood.
Mereka mengungkapkan bahwa dukungan tersebut bertujuan agar Iran bisa menggunakan pasukan mereka untuk menyingkirkan Taliban setelah NATO mengumumkan kekalahan dan menarik diri dari Afghanistan.

"Iran tidak akan memperbolehkan pasukan Taliban yang memiliki kendali lebih luas melampaui pasukan yang setia dengan doktrin radikal Syi'ah serta berorientasi komunis dan memiliki pengaruh di utara serta memiliki perwakilan dalam pemerintahan Afghanistan," kata sumber-sumber itu.

Menurut mereka, pemerintah Iran memberikan dukungan penuh terhadap pasukan komandan Ahmad Shah Masood. Sumber-sumber itu menambahkan, Iran juga menjalin kesepakatan dengan pasukan AS untuk mendukung dan memperkuat pasukan itu untuk melawan Taliban setelah pasukan asing mundur dari Afghanistan.

Mereka mengatakan, kualitas dan kuantitas senjata dan perlengkapan militer pasukan yang setia kepada Masood meningkat pesat.

Uni Soviet menginvasi Afghanistan pada 1979, hal itu menyatukan kelompok-kelompok mujahidin di Afghanistan, dengan dukungan Pakistan, Arab Saudi, AS - dan secara terpisah, Iran – yang akhirnya mampu mengusir Soviet dan menghancurkan rezim yang mereka tinggalkan.

Saat musuh bersama dapat ditaklukkan pada 1992, faksi-faksi mujahidin saling berseteru, mengakibatkan perang sipil yang diyakini menewaskan 50.000 orang.

Pada 1992, mujahidin yang memenangkan perang sepakat menunjuk Burhanuddin Rabbani sebagai presiden selama satu tahun. Tapi, Rabbani bertahan hingga empat tahun, dalam masa-masa itu pasukan panglima perang Pashtun Gulbuddin Hekmatyar melancarkan perang yang membuat ibu kota Afghanistan menjadi puing-puing dan menewaskan ribuan orang. Terkadang pasukan milisi Uzbek dari Jenderal Rashid Dosturn, bekas kepala keamanan rezim yang didirikan Soviet, bergabung dengan pasukan Hekmatyar.

Akhirnya, dengan dukungan militer langsung dari Pakistan dan dukungan keuangan dari Arab Saudi, Taliban berkuasa pada 1996, bersumpah akan mengakhiri pertumpahan darah.

Mereka menyingkirkan Rabbani dan juga musuh-musuhnya, memenangkan dukungan sebagian besar panglima perang lokal yang mendominasi kawasan pedesaan Afghanistan.

Pasukan Rabbani yang terguling akhirnya bergabung dengan pasukan mujahidin Hazari Syi'ah yang didukung oleh Iran, ditambah dengan milisi Dosturn. Bersama, mereka menciptakan gerakan Aliansi Utara yang menguasai Kabul setelah AS melakukan invasi dan menggulingkan pemerintahan Taliban.

Tidak ada etnis mayoritas di Afghanistan. Suku Pashtun adalah golongan terbesar mencapai 38 persen populasi, tapi, sama halnya dengan suku Tajik (25 persen), Hazara (19 persen), dan Uzbek (6 persen), mereka adalah bagian dari kelompok yang sebagian besar tinggal di negara lain.

Sebagian besar etnis Pashtun tinggal di Pakistan, Tajik di Tajikistan, Uzbek di Uzbekistan, dan meski Hazara tidak memiliki ikatan secara etnis dengan Iran, paham Syi'ah yang mereka anut membuat mereka memiliki identitas yang sama dengan Iran, terpisah dari suku-suku Afghanistan.

Dalam menyusun pendekatan baru terhadap perang di Afghanistan, para petinggi militer dan politik AS mengatakan Iran – yang pernah disebut sebagai salah satu poros kejahatan oleh mantan presiden AS George W. Bush – bisa memainkan peranan penting.

Meski ada kekhawatiran mengenai program nuklir dan tudingan mempersenjatai milisi di kawasan tersebut, Jenderal David H. Petraeus, komandan pasukan AS di Afghanistan, mengatakan Washington dan Iran bisa bersatu dalam upaya menstabilkan Afghanistan.

Laksamana Mike Mullen, kepala staf gabungan AS, mengulang kembali penegasan itu pada Januari 2009. Negara-negara sekutu NATO juga memiliki keinginan menyertakan Iran dalam pengambilan keputusan strategi Afghanistan. Para anggota dewan Jerman menyerukan pendirian "kelompok kontak" yang terdiri dari beberapa negara untuk menciptakan jalur regional. "Inisiatif semacam itu, yang akan menyertakan Iran, akan menguntungkan jika breujung pada pembicaraan langsung antara Washington dan Teheran," kata Andreas Schockenhoff, wakil ketua Partai Kristen Demokratis Jerman.

Iran memiliki kedekatan bahasa dan budaya dengan Afghanistan, khususnya dengan etnis Tajik, suku Afghanistan berbahasa Farsi di Provinsi Herat, dan Hazara, minoritas Syi'ah yang tinggal di kawasan utara dan tengah Afghanistan.

Pengaruh Iran di kawasan tersebut cukup dalam. Kota Herat sempat menjadi ibu kota kekaisaran Persia pada awal abad ke-15, dan tetap menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan Iran hingga diambil alih oleh Dost Mohammed Khan pada 1863 dan menjadikannya wilayah perbatasan de facto Afghanistan.

Syi'ah menjadi agama resmi di Iran sejak 1501, pada permulaan Dinasti Savafid. Tapi, seiring Revolusi Islam tahun 1979 oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ulama Syi'ah mampu mengambil alih negara dan memerintah masyarakat mayoritas Syi'ah. Tidak heran hal itu menjadi peristiwa paling penting dalam sejarah Syi'ah.

Asia Times Online melaporkan dari kota suci Iran, Qom, dan menyebutkan bahwa, sejauh yang diinginkan para ayatullah terkemuka, misi utama mereka adalah mengubah keyakinan seluruh umat Islam dan menjadikannya kekuasaan revolusioner dan murni Syi'ah. (dn/im/tm/cf/at) www.suaramedia.com Jumat, 18 Juni 2010 13:22
Selengkapnya...

Kamis, 17 Juni 2010

Lagu persembahan untuk Gaza

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
Lyrics:

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze


We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Terjemahan lirik dalam bahasa Indonesia:


Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini
Selengkapnya...