Sempat²nya syiah houtsi dari Yaman menembakkan rudal balistiknya nya ke Kota Riyadh ditengah isu virus #corona #Covid19. Namun alhamdulillah berhasil dihancurkan di udara oleh militer Saudi Arabia.
Tadi malam ada ledakan besar kayak gempa di Riyadh ternyata penghancuran rudal ballistic nya syiah houthi yang yang di tembakkan ke Riyadh.
Dari sini semakin faham kita bahwa syiah rafidhah pada hakikatnya tidak pernah menginginkan kebaikan kepada kaum muslimin karena ajaran mereka terlahir dari orang-orang Yahudi.
Semoga Allah Ta'ala menghancurkan syiah houtsi dan para rafidhah lainnya yang tidak pernah beristirahat membuat makar atas ummat Islam.
Selengkapnya...
Sabtu, 28 Maret 2020
Kejahatan Syiah Houthi Di Tengah Wabah Covid-19
Selasa, 12 November 2019
Realita Hari Ini Adalah Sejarah Yang Berulang
Bombardir penghancuran kota Aleppo (Halab) bersama penduduknya sebulan terakhir ini yang dilakukan oleh rezim penguasa Syiah Nushairiah di Syiria bekerja sama dengan tentara Rusia tidak lain dari pengulangan sejarah masa lalu. Tragedi kemanusiaan ini adalah kejahatan perang terbesar dalam kira-kira 10 abad terakhir. Namun yang menyedihkan adalah amat sedikit orang tertarik membahasnya seolah dunia bungkam seribu bahasa. Berbeda dengan tragedi Paris lalu malahan dunia semuanya angkat bicara menyalahkan pelakunya dan berduka atasnya padahal korban tidak seberapa dibandingkan korban Aleppo.
Dahulu kala dalam lembaran sejarah telah tertulis dengan rapi tatkala tentara Tartar membantai kaum muslimin di Baghdad yang bekerja sama dengan Syiah diiringi dengan penghancuran kota Baghdad sampai-sampai air sungai berwarna hitam karena warna tinta kitab-kitab yang bertuliskan ilmu dan sejarah turut dilemparkan ke dalamnya.
Kini di kota Aleppo, anak-anak tidak berdosa, wanita-wanita lemah, orang-orang tua renta dan orang-orang sipil harus menanggung derita akibat permusuhan ideologi. Sungai berubah warna menjadi merah karena darah kaum muslimin.
Sejarah akan selalu berulang maka belajarlah dari sejarah. Semua ini berawal dari paham ekstrimisme atas nama kelompok yang terlahir dari seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam (Abdullah bin Saba) kemudian dilanjutkan oleh orang-orang Syiah dari zaman ke zaman. Mereka selalu memakai baju Islam kemudian bersama-sama kaum kuffar menyerang membunuhi kaum muslimin tanpa pandang bulu.
Sangat disayangkan banyak orang lain yang terperdaya dengan isu pendekatan mazhab sunni-syiah. Bukankah derita perang Irak, Libanon, Syria, dan Yaman saksi nyata kebiadaban Syiah? Namun mereka berkilah dan mengemasnya dalam bahasa “pertentangan politik” bukanlah pertentangan ideologi atau mazhab tertentu. Semoga kita semakin berhati-hati agar pemahaman Syiah tidak menyebar di tempat kita.
Di Libanon seolah konflik tidak pernah usai karena kelompok Syiah memiliki pasukan perang yang diketuai oleh Hasan Nasrallah selalu menyulut api perang. Di Irak nyawa umat Islam tidak terhitung lagi akibat syahwat politik orang Syiah untuk menguasai negara. Di Yaman bermula dari pemberontakan kelompok kecil Syiah kemudian menggalang kekuatan yang akhirnya didukung penuh oleh rezim Iran sehingga meletuslah korban yang begitu banyak pada akhirnya rakyat juga yang merasakan penderitaan berkepanjangan. Di Bahrain juga minoritas Syiah sering kali mencoba melakukan pemberontakan terhadap pemerintah namun berhasil dipadamkan. Di Kerajaan Arab Saudi pula kelompok Syiah ada juga di Wilayah Timur yang kerap kali mengganggu stabilitas dan keamanan negara. Di Indonesia benih-benih konflik dengan kaum muslimin menyebar seperti di Sampang, Madura. Di Syria sebagaimana yang kita saksikan sekarang ini adalah fakta nyata untuk membuka mata kita bahwa golongan Syiah jika memiliki kekuatan maka mereka akan menindas dan berupaya menghancurkan kaum muslimin.
Fakta-fakta kontemporer ini tidak lain dari pengulangan realita sejarah masa lampau. Mari kita lihat kasus ketika Khilafah Utsmaniyah berkuasa yang paling gencar untuk menjatuhkan kekhilafahan adalah Dinasti Shafawiyah.
Benar adanya jika ini terkait masalah politik tetapi kita katakan masalah politik yang merupakan akibat dari dendam ideologi. Golongan ini bermula dari kedengkian politik terhadap umat Islam di saat kalangan khulafaurrasyidin memegang tampuk pemerintahan, mereka tidak rela dipimpin oleh sahabat-sahabat terbaik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan mereka menuduh para sahabat Nabi dengan tuduhan tidak layak. Selain dari itu mereka ingin mengembalikan kejayaan kekisraan Persia yang berhasil di kuasai oleh pemerintahan Islam di masa khulafaurrasyidin.
Mari kita dengarkan penuturan salah seorang sejarawan Kuwait bahwasanya permasalahan yang yang terus-menerus dipendam oleh Iran adalah kebencian sejarah terhadap orang Arab, dalam kitab Syahnami (semacam Injilnya orang Persia) yang ditulis oleh Firdausi menjelaskan tentang kepribadian orang Arab mengatakan bahwa bagaimana mungkin kita bertoleransi dengan orang Arab, yang pemakan belalang dan peminum kencing unta dan bermandikan dengannya datang ke sini (negeri Persia) atas nama al fath (pembukaan wilayah baru) membuka dan menggantikan singgasana Kisra, “sungguh keji engkau wahai zaman” yang memberikan kesempatan kepada orang Arab pemakan belalang dan peminum kencing unta untuk datang ke sini menguasai Persia sedangkan anjing kita di isfahan meminum air dingin (maksudnya anjing mereka lebih mulia dari orang Arab). Bahkan seorang penyair Iran Mustafa Badkoobei bersenandung dalam qasidahnya pada tahun 2013 bertanya kepada Allah dalam syairnya yang bermakna “Ya Rabb wahai Tuhannya orang Arab, Engkau mengancamku untuk melemparkanku ke neraka Jahannam akan tetapi saya mengajukan satu permintaan dan permohonan agar saya tidak mendengarkan walau satu huruf pun dari Bahasa Arab dalam neraka Jahannam” yakni saya rela dan bersedia masuk ke dalam neraka Jahannam asalkan saya tidak mendengarkan satu huruf Arabpun kelak di neraka Jahannam karena saya tidak mampu mendengarkannya.
Lihatlah betapa besarnya kebencian dan penyakit pathology dari orang-orang Syiah Iran terhadap orang Arab sampai harus mencela Allah dan zaman yang telah menciptakan orang Arab yang berhasil menguasai dan mengislamkan wilayah Persia.
Makanya tiga kunci utama yang dipegang Iran saat ini yaitu kekuatan militer, keangkuhan budaya, dan kebencian sejarah menjadi modal utama Iran untuk memerangi kaum muslimin di Syria, Irak, Libanon dan Yaman.
Dendam ideologi dan politik inilah yang terus diwariskan secara turun temurun hingga sampai pada yang kita lihat di kota Aleppo saat ini.
Semoga Allah menolong dan memuliakan kaum muslimin dan menghancurkan musuh-musuhnya.
Sumber
Selengkapnya...
Minggu, 30 Juli 2017
Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab
Dakwah salafiyah adalah dakwah yang menyeru kaum muslimin untuk kembali kepada Islam sesuai dengan manhaj salaf shalih. Di bidang ini dakwah yang digawangi oleh Syaikh Ibnu Abdul Wahab merupakan motor utama bagi gerakan-gerakan perbaikan yang lahir pasca kemunduran dan kemandekan pemikiran di dunia Islam.
Dakwah ini menyeru kaum muslimin untuk kembali kepada akidah Islam yang shahih dengan menimbanya dari sumbernya yang jernih. Dakwah ini berupaya membersihkan kemurnian tauhid dari noda-noda syirik yang mengotorinya.
Dakwah ini bukan madzhab baru dan bukan manhaj bid’ah, karena ia hanya melanjutkan dan meneruskan dakwah salafiyah yang lahir sebelumnya. Dakwah ini adalah dakwah yang berupaya membuka jalan salaf shalih di depan mata kaum muslimin sehingga mereka mengetahuinya dan selanjutnya menitinya.
Pendiri
Dakwah ini lahir di tangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab at-Tamimi an-Najdi, 1115 – 1206 H. Syaikh lahir di kota al-Uyainah yang dekat dengan Riyadh. Ayahnya adalah guru pertamanya, kepadanya Syaikh belajar dasar-dasar madzhab Hanbali, tafsir dan hadits. Syaikh telah hafal al-Qur`an dalam usia sepuluh tahun. Syaikh berangkat ke Makkah untuk beribadah haji, di sana Syaikh belajar dari ulama-ulamanya. Kemudian Syaikh pindah ke Madinah, di sini Syaikh bertemu dengan Syaikh Muhammad Hayat as–Sindi yang selanjutnya menjadi guru baginya, di samping Syaikh belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim Alu Saif.
Syaikh berangkat ke Irak, di sana Syaikh belajar dari ulamanya di kota Bashrah dan Baghdad. Syaikh meninggalkan Bashrah ke al-Ahsa` kemudian ke Huraimala` mengikuti ayahnya yang seorang hakim yang pindah karena tuntutan pekerjaan. Di kota ini Syaikh mulai menebarkan dakwah tauhidnya sekalipun tidak berlangsung lama karena konspirasi sebagian kalangan untuk membunuh Syaikh.
Syaikh pindah ke al-Uyainah, dia menyampaikan dakwahnya kepada Amirnya Usman bin Ma’mar. Bersama Amir ini Syaikh mulai menghancurkan kubah-kubah yang dibangun di atas kuburan dan menegakkan hukum rajam atas seorang wanita yang berzina dan mengakui perbuatannya.
Amir al-Ahsa` Urai’ir bin Dujain mengirim surat kepada Amir al-Uyainah yang berisi perintah untuk membunuh Syaikh, sebagaimana orang-orang buruk yang tidak menyukai dakwah Syaikh mengadukan Syaikh ke Ibnu Ma’mar, maka Ibnu Ma’mar meminta Syaikh untuk meninggalkan negerinya ke mana Syaikh suka.
Syaikh hijrah ke ad-Dir’iyah, wilayah dibawah kepemimpinan Alu Suud, Syaikh singgah sebagai tamu pada seorang laki-laki Muhammad bin Suwailim al-Uraini, di sini para penuntut ilmu berkumpul kepada Syaikh dan memuliakannya.
Amir Muhammad bin Suud yang berkuasa pada masa itu mendengar kedatangan Syaikh ke wilayahnya, maka dia menemui Syaikh dan menyambutnya. Amir Ibnu Suud berjanji kepada Syaikh untuk memberikan perlindungan dan dukungan.
Di antara percakapan yang terjadi di antara kedua:
Amir Ibnu Suud berkata, “Bergembiralah dengan negeri kebaikan dan bergembiralah dengan kemuliaan dan perlindungan.”
Syaikh berkata, “Bergembiralah dengan kemuliaan dan kekuasaan. Ini adalah kalimat la ilaha illalllah, siapa yang memegangnya, mengamalkannya dan mendukungnya maka dia akan menguasai negeri dan manusia, ia adalah kalimat tauhid, ia adalah dakwah semua rasul dan Allah akan mewariskan bumi ini kepada kaum muslimin.”
Kemudian Amir meletakkan dua syarat:
- Hendaknya Syaikh tidak meninggalkannya dan mencari pendukung lain.
- Hendaknya Syaikh tidak melarangnya untuk mengambil pada saat panen apa yang sudah biasa diambil dari penduduk ad-Dir’iyah.
Syaikh menjawab tentang syarat yang pertama, “Berikan tanganmu, aku membaiatmu. Darah dengan darah dan kematian dengan kematian.”
Syaikh menjawab tentang syarat kedua, “Semoga Allah memberikan ganti kepadamu melalui harta rampasan yang kamu peroleh melalui beberapa penaklukan.”
Syaikh dengan dukungan Amir menyebarkan dakwah tauhid di seantero Nejed. Ketika Amir Muhammad bin Suud wafat, dia digantikan oleh anaknya Abdul Aziz bin Muhammad yang tetap mendukung Syaikh menyebarkan dakwahnya sampai Syaikh wafat di ad-Dir’yah dan di sana Syaikh dimakamkan.
Syaikh meninggalkan karya-karya dalam jumlah besar, di antaranya adalah Kitab at-Tauhid, Kitab al-Iman, Kasyf asy-Syubuhat, Adab al-Masyi ila ash-Shalah, Masa`il al-Jahiliyah dan lain-lainnya.
Tokoh-tokoh
Pasca wafatnya Syaikh, dakwah tauhid ini diusung dan diteruskan oleh para ulama yang merupakan murid-murid Syaikh yang berjumlah besar, di antara mereka adalah:
Suud bin Abdul Aziz bin Muhammad, putra mahkota di masanya, dia adalah murid yang selalu mendampingi Syaikh dan belajar darinya.
Anak-anak Syaikh, Husain bin Muhammad bin Abdul Wahab, hakim negeri ad-Dir’iyah. Ali bin Muhammad, seorang ulama besar yang menolak pengangkatannya sebagai hakim. Abdullah bin Muhammad, hakim ad-Dir’iyah di zaman Amir Suud bin Abdul Aziz bin Muhammad. Ibrahim bin Muhammad, seorang ulama mulia sekaligus peneliti cermat.
Abdurrahman bin Khamis, imam istana Alu Suud di ad-Dir’iyah dan hakim di masa Raja Abdul Aziz dan putranya Raja Suud.
Husain bin Ghannam, penulis Raudhatul Afkar, seorang ulama yang berilmu luas. Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab, belajar kepada kakeknya, mengajar dan menjadi hakim, penulis kitab Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid.
Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahab, dibunuh oleh Ibrahim Basya pasca jatuhnya ad-Dir’iyah. Penulis kitab Taisir al-Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab at-Tauhid
Syaikh Allamah Muhammad bin Ibrahim, wafat tahun 1389 H, salah seorang cucu Syaikh, mufti umum Kerajaan Saudi Arabiah dan kepala para hakim di zamannya, terkenal dengan ilmunya yang luas, hafalannya yang kuat dan pandangan-pandangannya yang jauh ke depan, terkenal dengan ibadahnya, kebersihan dan kemurahan hatinya, di samping itu dia sangat disegani oleh para penguasa.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Babathin, ulama besar yang dijuluki dengan Mufti ad-Diyar an-Najdiyah, wafat tahun 1282 H.
Di antara tokoh dakwah ini adalah Mufti Kerajaan Saudi Arabiah sebelum ini, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.
Pemikiran dan Keyakinan
- Syaikh Ibnu Abdul Wahab bermadzhab Hanbali, namun dia tidak memegangnya dengan ta'ashub, jika ada dalil yang menurutnya rajih, maka dia mengikuti dalil dan meninggalkan madzhabnya. Hal ini memberi warna kepada dakwahnya, yaitu mengikuti dalil selaras dengan manhaj salaf shalih.
- Dakwah ini menekankan kewajiban rujuk kepada al-Qur`an dan sunnah dengan pemahaman salaf shalih dan berupaya menghidupkan apa yang tergerus dari akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
- Dakwah ini menyeru kaum muslimin untuk memurnikan akidah tauhid dan membersihkannya dari kotoran syirik dengan meneladani kaum muslimin angkatan pertama.
- Menetapkan pemahaman yang shahih dalam tauhid Asma` was Shifat sesuai dengan manhaj salaf shalih, yaitu menetapkan Asma` was Shifat yang Allah dan rasulNya tetapkan tanpa tamtsil, takyif, tahrif dan Ta'ala’thil.
- Menghidupkan kewajiban jihad di jalan Allah dan memberantas bid’ah-bid’ah serta khurafat-khurafat yang disusupkan ke dalam agama Islam padahal ia bukan darinya.
- Menutup segala sarana kepada kesyirikan seperti mendirikan bangunan di atas kubur, memberinya penerangan dan kiswah, menziarahi kubur-kubur yang dianggap keramat dan sepertinya.
- Membendung gerak langkah dan pemikiran-pemikiran dari kelompok-kelompok yang menyimpang dari jalan lurus, aliran-aliran bid’ah dan tasawuf yang menyusupkan ajaran-ajaran yang bukan dari Islam ke dalam Islam atau membelokkan kebenaran ke arah yang sejalan dengan hawa nafsu mereka.
- Memerangi thaghut, yaitu sesuatu yang disembah atau diikuti atau ditaati secara berlebih-lebihan sampai melampaui batas. Dedengkot thaghut adalah lima: Iblis yang terkutuk, orang yang disembah selain Allah dan dia rela, orang yang menyeru manusia untuk menyembah hawa nafsu, orang yang mengaku mengetahui ilmu ghaib dan orang yang menetapkan hukum dengan selain yang diturunkan oleh Allah. Seseorang tidak beriman sehingga dia kafir kepada thaghut.
- Meninggalkan dalil yang jelas dengan berdalil kepada lafazh yang musykil dan mutasyabih adalah salah satu metode para pengikut hawa nafsu, orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit seperti Jahmiyah, Rafidhah, Khawarij dan lain-lain yang harus dihindari karena ia menyeret kepada kesesatan.
“Adapun orang-orang yang hatinya cenderung kepada kesesatan maka mereka mengikuti sebagian yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya.” (Ali Imran: 7).
- Segala sesuatu yang didiamkan oleh peletak syariat dimaafkan, tidak halal bagi siapa pun untuk mengharamkannya atau mewajibkannya atau menganjurkannya atau memakruhkannya. Yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh peletak syariat dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh peletak syariat. Dan Nabi shallallohu 'alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas, di antara keduanya adalah perkara yang mutasyabihat.
- Syirik adalah dosa nomor wahid yang harus ditakuti dan ia terbagi mejadi syirik akbar yang meliputi syirik ibadah, tujuan, ketaatan dan kecintaan. Syirik ashghar yaitu riya` dan yang sepertinya dan syirik khafi atau samar.
- Ulama dakwah ini mengetahui perkara-perkara zaman dan memahami hal-hal yang terjadi di masanya. Syaikh Ibnu Abdul Wahhab sendiri begitu perhatian dalam perkara tauhid ibadah dan lawannya, hal itu karena tauhid ibadah adalah kewajiban pertama atas mukallaf di samping penyimpangan yang mewabah pada zaman Syaikh terjadi di bidang ini.
Namun ketika dakwah ini mulai menyebar ke luar dan menghadapi perkara-perkara baru yang sedang mewabah, maka ulama dakwah ini bisa menyikapinya dengan baik dengan menimbangnya dengan al-Qur`an dan sunnah Rasulullah shallallohu 'alaihi wasallam ala pemahaman salaf umat, ketika tahrif dan ta’thil di bidang Asma` was Shifat, misalnya, sedang mewabah maka ulama dakwah ini membahasnya dengan lengkap sesuai dengan dalil yang shahih, hal ini terlihat dari tulisan-tulisan Syaikh Abdurrahman bin Hasan dan putranya Abdul Lathif.
Demikian pula ketika hukum thaghut melalui impor terhadap hukum-hukum barat memayungi negeri-negeri kaum muslimin, para ulama dakwah ini mempunyai reaksi cepat dan tepat dalam menyikapinya dengan menjelaskan hukum Allah padanya, hal ini bisa terbaca dari fatwa-fatwa dan tulisan-tulisan Syaikh Muhammad bin Ibrahim.
- Memberi perhatian dalam perkara pengajaran kepada orang-orang umum dan mengangkat pemahanan agama mereka serta membuka pemikiran orang-orang terpelajar agar mencari dalil dan menelaahnya dengan cermat, memilah berdasarkan dalil apa yang tertulis dalam buku-buku rujukan sebelum menerima suatu pemikiran alih-alih menerapkannya.
Akar Pemikiran dan Keyakinan
Dakwah ini adalah kelanjutan dari akidah dan pemahaman agama salaf umat, orang-orang di abad terbaik, dakwah yang menyeru kepada ittiba’ al-Qur`an dan sunnah selaras dengan pemahaman salaf shalih.
Dakwah ini berawal dari Nejed, selanjutnya menyebar ke wilayah sekitarnya dan mencapai masa keemasan bersama pemerintah Kerajaan Saudi Arabiah di dua tanah suci Makkah tahun 1219 H dan Madinah tahun 1220 H.
Pemikiran-pemikiran dakwah ini menyebar pula kepada kaum muslimin di negeri-negeri muslim dan dakwah ini turut memberi pengaruh yang signifikan terhadap gerakan-gerakan perbaikan di dunia Islam di masa itu baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dakwah ini tidak selamat dari kebencian para pembenci dan kedengkian para pendengki, mereka melemparkan cap-cap negatif tetapi palsu dan gelar-gelar menakutkan tetapi dusta manakala mereka merasa bahwa dakwah ini mengancam kelangsungan pemikiran mereka, hal ini dilakukan oleh para pengusung bid’ah dan para pendukung aliran-aliran kesesatan. Hal semacam ini lumrah dalam lahan permusuhan antara kebenaran dengan kebatilan, sekalipun akhirnya kebenaranlah yang akan menang dan menghapus kebatilan.
Sebagian pengikut dakwah ini dikritik, di antaranya sebagai contoh, sikap keras dalam mengingkari kemungkaran dan hanya mementingkan perkra-perkara bid’ah dan syirik dengan melalaikan sisi-sisi Islam yang lainnya.
Kritik ini disikapi dengan bijak oleh sebagian pengikut lainnya, pada mereka mulai terlihat perhatian yang sangat kentara terhadap masalah-masalah Islam lainnya secara menyeluruh dalam aktifitas-aktifitas dakwah mereka, tidak sedikit dari mereka mulai memegang kendali kegiatan-kegiatan sosial dan dakwah di berbagai negeri kaum muslimin.
Alhasil, bahwa dakwah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab adalah seruan yang mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada akidah tauhid yang bersih, berpegang kepada petunjuk salaf shalih. Dakwah ini bepijak kepada al-Qur`an dan sunnah, manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam memahami dalil dan kembali kepadanya, menyeru dibukanya pintu ijtihad dengan syarat dan ketentuannya, menyeru kepada pemurnian tauhid dari noda-noda syirik yang mengotorinya dan menutup segala jalannya.
Inilah satu-satu dakwah dan gerakan perbaikan di zaman modern ini yang mampu menegakkan sebuah negara yang berhukum kepada Islam.
Dari al-Mausu’ah al-Muyassarah, isyraf Dr. Mani’ al-Juhani.
Langganan:
Postingan (Atom)